Review Hotel Ibis Bali Kuta

Liburan ke Pulau Dewata memang selalu menyenangkan, itu yang saya rasakan ketika berkunjung ke Bali tahun lalu. Jatah libur dari kantor selama 1 minggu,  membuat saya memilih Bali sebagai tempat pelarian terbaik untuk melupakan sejenak rutinitas kerjaan.

Ini adalah kunjungan kedua saya ke Bali. Saya tidak mau terulang lagi pengalaman yang sebelumnya,. Pengalaman terlantar di luar bandara. Menunggu teman yang katanya mau menjemput, tapi hampir 3 jam saya diluar tapi tak kunjung datang juga. Cerita lama tapi kalau dikenang menyenangkan juga. Tidak seperti mantan, cerita lama tapi kalau dikenang..Ah sudahlah tidak usah dibahas, nanti malah baper.

Nah, dari pengalaman itu, jauh hari sebelum ke Bali saya sudah menyiapkan segalanya mulai dari akomodasi, transportasi dan itinerary secara umum. Pertama, saya rental motor selama 5 hari dengan perjanjian diantar ke Bandara Ngurah Rai. Kedua, saya booking hotel yang lokasinya tidak jauh dari Bandara, harganya terjangkau dan tidak terlalu jauh dari Kawasan Pantai Kuta. Dari situs booking Traveloka, saya mendapatkan Hotel Ibis Bali Kuta yang harganya sekitar 300an. Ketiga, Saya sudah memutuskan bahwa Itinerary hari pertama, untuk tidak kemana-mana alias staycation di kamar.

Lokasi
Lokasi Hotel Ibis Kuta Bali sebenarnya bukan daerah Kuta, ini masih daerah Tuban. Tapi tidak terlalu jauh juga dengan Pantai Kuta. Selain harga, lokasi nya yang dekat dari Bandara dan mudah dijangkau menjadikan alasan saya memilih hotel ini.

Setelah mengurus administrasi dengan pihak penyedia rental motor di Bandara, saya pun memacu sepeda motor Yamaha Mio keluar dari parkiran Bandara. Menyusuri jalan sesuai yang diarahkan dari google maps. Melewati pertigaan Patung Satria Gatotkaca, belok kiri kemudian melewati Toko Krishna hingga saya sudah berada di depan Hotel. Lumayan dekat hanya 15 menit dari Bandara.

Pada umumnya pihak Hotel melayani check in setelah pukul 13.00 atau 14.00. Tapi Resepsionis Hotel Ibis Bali Kuta melayani saya dengan ramah, bahkan saya sudah bisa masuk kamar walaupun saat itu masih pukul 11.30. Awalnya saya berpikir akan menunggu dulu, tapi karena sudah ada kamar yang kosong maka saya diperbolehkan untuk menuju kamar lantai 5. Kesan pertama yang bagus, seharusnya semua hotel seperti ini. 

Interior hotel dari meja resepsionis hingga di depan pintu masuk lift, dihiasi dengan lukisan yang artistik bernuasa Bali. 

Sebagai hotel bintang tiga, Hotel Ibis Bali Kuta menawarkan kenyamanan yang maksimal pada setiap tamunya, mulai dari resepsionis yang ramah hingga mengantarkan saya hingga ke pintu lift dan mengarahkan lokasi kamar saya. 

Fasilitas Kamar
Kesan pertama setelah buka pintu, kamarnya lumayan luas dengan kasur yang empuk dilengkapi dengan dua buah bantal dan guling, semuanya serba warna putih agar terkesan bersih dan nyaman. Bantalnya berbahan bulu angsa, ini yang membuat saya nyaman, selalu suka dengan hotel yang bantalnya berbahan bulu angsa. Dindingnya kombinasi tembok warna putih dan lapisan kayu warna coklat. Terdapat sebuah meja panjang tepat didepan kaca jendela, dipasang kain gorden 3 warna yang bisa dibuka tutup.

Selain tempat tidur, juga terdapat lemari tanpa pintu yang ditempatkan pada sudut kamar, ada juga tempat untuk menggantung pakaian. Televisi 24 inch terpasang di dinding yang dilapisi kayu, sehingga kamarnya terkesan luas.

Selain tempat tidur, fasilitas toilet adalah bagian terpenting jika saya menginap di Hotel. Sebagus apapun hotelnya tapi kalau toiletnya kotor atau berbau, semuanya langsung saya kalikan dengan nol. tapi Hotel Ibis Bali Kuta, toiletnya luas dan bersih. Ada juga hair dryer, ini biasanya penting bagi perempuan.


Fasilitas Restoran
Selain fasilitas kamar, biasanya hotel punya penilaian tersendiri untuk restoran dan paket breakfast. Hotel Ibis Bali Kuta menawarkan dua tempat untuk sarapan, ada outdoor dan indoor. Sebuah ruang terbuka dengan jejeran kursi dan meja kayu, lantainya juga dari papan kayu. Tidak hanya itu, terdapat sebuah kolam kecil yang mengelilingi lantai kayunya, pengunjung benar-benar dimanjakan. Disudut taman terdapat juga patung khas Bali.

Kalau sarapan kamu suka pesan telur goreng gak? Nah, disini kamu bisa pesan telur goreng dengan varian rasa, ada omeleteboiled, bached, fried, scramble. Buat yang tidak suka makan makan yang berat-berat di pagi hari, kamu bisa memilih bubur ayam atau cukup roti tawar dengan pilihan aneka macam selai. Minumnya, ada pilihan jus dan jamu. 

Nah, Hotel Ibis Bali Kuta cocok gak sebagai pilihan menginap di Bali? Harga yang 300an sepertinya sangat cukup dengan fasilitas yang diberikan.

Tips : Makan yang banyak sebelum check out, agar siangnya tidak perlu makan lagi
Hotel Ibis Bali Kuta
Jl. Raya Kuta No. 77, Bali 80361
Tel: (0361) 756500

Ayo Ke Luwuk, Melihat Gerhana Matahari Total 2016

Gerhana Matahari Total 2016 (http://news.liputan6.com/)
Fenomena Gerhana Matahari Total (GMT) tahun 2016 merupakan momen langkah, setidaknya butuh 33 tahun setelah tahun 1983 untuk bisa melihat kembali gerhana matahari total. Saat itu saya belum lahir, jadi momen tahun ini tidak ingin saya lewatkan begitu saja. 

Ini sebuah keberuntungan bagi Indonesia karena menjadi satu-sataunya negara yang dilalui gerhana matahari, selebihnya di lautan. Diperkirakan akan banyak wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia demi melihat Gerhana Matahari Total, bisa dilihat dari pemberitaan beberapa hari terakhir di media massa, khususnya media televisi. Semuanya memberitakan bahkan ada yang sudah siap untuk meliput secara live streaming agar semua masyarakat Indonesia bisa melihat fenomena ini.

Ketakutan-ketakutan masa dulu sudah tidak ada lagi, walaupun masih ada sih sebagian orang yang masih takut untuk melihat langsung. 

Saya takut keluar rumah nanti mata saya buta” itu artinya kamu masih berpikir tempo doeloe. 

Ada dua hal penting yang harus diketahui, pertama jangan melihat langsung pada saat matahari mulai menutup, yang kedua jangan melihat langsung pada saat matahari sudah mulai terlihat kembali. Saat itu cahaya matahari sangat terang dan bagian retina mata tidak mampu untuk melihatnya. 

Nah, bagaimana dengan lokasi Gerhana Matahari Total 2016 di Indonesia? Jauh hari sudah diumumkan bahwa beberapa kota di Indonesia akan dilalui Gerhana Matahari Total, ada kota Palembang, Bangka dan Belitung di Pulau Sumatera. Ada kota Palangkaraya, Sampit dan Balikpapan di Pulau Kalimantan. Ada kota Palu, Poso, dan Luwuk di Pulau Sulawesi. Terakhir kota Ternate. Dinas pariwisata setempat sudah siap menyambut para wisatawan yang datang, ini merupakan berkah bagi sektor pariwisata Indonesia. 

Selain kota tersebut, masih ada beberapa kota lainnya namun kamu hanya melihat gerhana matahari setengah, tapi masa iya melihat fenomena ini setengah-setengah, sempatkanlah mengunjungi salah satu kota diatas. Nah, dari daftar kota tersebut, saya sendiri akan menyaksikan momen ini di Luwuk, Sulawesi Tengah. Luwuk adalah Ibukota kabupaten Banggai, kabupaten paling timur di Sulawesi Tengah. Kota kecil dengan pemandangan perbukitan dan pantai adalah landscape kotanya. Letaknya yang di ujung timur dari ibukota provinsi, Palu. Jarak dari Palu sekitar 600 km, namun tidak menjadikan kota ini terpencil. Kehadiran Bandara Syukuran Aminuddin Amir yang memiliki rute penerbangan Luwuk-Palu, Luwuk-Makassar dan Luwuk- Manado, setidaknya ada 3 kali penerbangan setiap harinya untuk ketiga kota tersebut.




Kota Luwuk memang tidak semeriah kota lainnya dalam menyambut GMT seperti Palembang, Belitung, Palu dan Ternate. Namun itu tidak menjadikan bahwa luwuk bukan menjadi pilihan terbaik untuk menyaksikan peristiwa langkah ini. Ada 3 hal yang harus kamu ketahui tentang Luwuk, disimak baik-baik yah!

Luwuk sebagai tempat Gerhana Matahari Total dengan durasi paling lama
Pusat sains antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) telah merilis daftar kota yang dilalui Gerhana Matahari Total beserta waktu dan durasinya. Dari data tersebut, kota luwuk sebagai kota dengan durasi waktu paling lama menyaksikan GMT, sekitar 2 menit 50 detik. Kemudian disusul Poso dengan 2 menit 40 detik dan Ternate 2 menit 39 detik. 

Bukit Keles, Spot terbaik Melihat GMT dari ketinggian.
Tidak hanya tentang seberapa lama kamu menikmati gerhana matahari, tapi di Luwuk juga mempunya spot terbaik, Bukit Keles. Dari ketinggian bukit keles kita bisa melihat fenomena ini secara langsung tanpa terhalang dari gedung bertingkat, atap rumah atau pepohonan. Tentunya kamu tidak mau, melihat GMT tapi pandanganmu tidak leluasa.  Kamu bisa mengabadikannya dari berbagai sudut dengan pemandangan laut dan kota luwuk dari ketinggian.






Pantai Kilo Lima, Spot terbaik Melihat GMT dari pantai
Selain Bukit Keles,ada pantai paling terkenal di Luwuk. Dari namanya sudah bisa ditebak, pantai ini lokasinya 5 kilometer sebelah barat daya kota Luwuk arah ke Batui. Pantai pasir putih dengan gradasi warna air lautnya yang membuat orang melihatnya pengen langsung nyebur. Menikmati Gerhana dari pantai ini, juga pilihan terbaik. Sepanjang pantai ini juga terdapat warung dengan menu andalan pisang goreng sambel ikan roa. 



Tiga alasan diatas, setidaknya bisa membuat kamu untuk berkunjung ke Luwuk. Masih ada dua hari lagi, namun sepertinya saya sudah tidak sabar melihat kejadian langkah ini. Luwuk menjadi kota pilihan saya, kamu dimana?



Kaledoskop Perjalanan Tahun 2015

Tidak terasa kita sudah penghujung akhir tahun 2015, beberapa jam lagi akan memasuki tahun 2016. Saya cuma ingin mengucapkan selamat tahun baru untuk semua pembaca blog ini. Semoga segala pencapaian tahun ini bisa berlanjut di tahun berkutnya, kalau bisa jauh lebih meningkat lagi.

Sebelum menutup tahun 2015, saya ingin mengulang kembali catatan perjalanan saya tahun ini. Tahun yang penuh dengan keberagaman dalam setiap perjalanan yang saya lewati.

DATANG KEMBALI KE PULAU BALI DAN GILI TRAWANGAN
Yeah, masih teringat berkunjung ke Pulau Dewata ketika masih kuliah, tepatnya tahun 2010. Kini saya datang kembali setelah 5 tahun. Ada yang bilang kalau mau liburan murah ala backpacker di Bali lah tempatnya, saya bilang iya tapi tidak murah-murah juga tergantung sih kamu mau kemana, menginap dimana dan naik transport apa. Semuanya pilihannya ada, tergantung kamu mau menikmati perjalananmu seperti apa. Thats why, saya mau ke liburan ke Bali.


Selain menghabiskan waktu liburan di Bali, saya juga berkunjung ke Gili Trawangan. Sebenarnya kunjungan ke pulau paling terkenal di Lombok tidak masuk dalam perencaan, semuanya berubah ketika melihat info penyebrangan murah kapal cepat dari Bali ke Gili Trawangan seharga 500 rb/PP.

Memang benar kata orang, di Gili Trawangan, kita yang orang Indonesia akan merasa seperti turis di negeri sendiri.

Info tentang penyebrangan murah dan cepat dari Pelabuhan Padang Bai ke Gili Trawangan akan saya infokan di postingan terpisah.

KELILING 3 PROVINSI DI PULAU KALIMANTAN
Perjalanan menyusuri Pulau Kalimantan seorang diri memang paling berkesan banget, ada banyak cerita dan pengalaman selama melintasi pulau terluas Indonesia "Borneo" selama 10 hari. Memilih penerbangan menuju Balikpapan dari Makassar sebagai titik awal perjalanan ini, kemudian lanjut menuju Samarinda dan Bontang. Saya menghabiskan 3 hari di Kalimantan Timur. Selanjutnya saya dilanda kebingungan, bimbang antara ke Tarakan atau Banjarmasin. Pilihan yang sulit mengingat saya ingin ke Derawan dan saya juga pengen menikmati serunya bamboo rafting di Kandangan. 

Setelah berpikir sejenak, saya pun memilih Banjarmasin dibanding Derawan, Alasannya sih mudah tapi kok saya gak kepikiran tentang itu. Sebagai seorang pejalan yang punya mimpi mengujungi 34 provinsi di Indonesia, tentunya Banjarmasin lebih unggul karena saya bisa mengunjungi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah jika memilih terbang ke Banjarmasin. Lantas kalau saya ke Derawan dengan seorang diri, tempat seromantis itu tanpa pasangan rasanya kurang lengkap. Saya akan ke Derawan bersama istri saya di masa depan. :)

Perjalanan di Kalimantan Selatan, saya mengunjungi Desa Kandangan yang terkenal dengan bamboo rafting menyusuri Sungai Amandit. Mengunjungi pasar terapung Lok Baintan yang dulu terkenal dengan iklan cap jempol dari salah satu TV swasta. Menikmati sajian kuliner Bajarmasin, ada Lontong orari, Soto Banjar di Warung Novi, dan Ketupat Kandangan serta menyusuri wisata sejarah Banjar. Cerita dari Banjarmasin juga mengenalkan saya tentang komunitas Banjarmasin Traveler.

Perjalanan lintas Provinsi dan lintas waktu itu cuma bisa kamu rasakan ketika perjalanan darat dari Banjarmasin ke Palangkaraya. Ada dua alasan kenapa saya ke Palangkaraya, pertama saya mau melihat seperti apa kota Palangkaraya, ibukota negara impian Soekarno. Itu bisa dilihat dari menara tiang pancang pertamanya yang masih ada sampai sekarang. Kedua, saya ingin bertemu langsung dengan Indra Setiawan, pemilik blog backpackerborneo.com

Adik Zapran tidak bisa diajak grufie
JAKARTA - BOGOR - BANDUNG 
Bisa dibilang sepanjang tahun 2015 saya lebih banyak menghabiskan waktu di Pulau Jawa, tepatnya di Kawasan Puncak Bogor. Mendapat tugas belajar di Petrotekno dari bulan April hingga November. Sejukya udara dan hawa dingin Puncak menjadi pemandangan setiap hari. Selama kurung waktu delapan bulan itu, saya lebih sering menghabiskan hari libur di tiga kota terdekat, paling dekat ke kota Bogor, main ke Ibukota atau paling jauh liburan ke kota kembang Bandung.

TRAVEL BLOGGER MEET UP
Tahun ini bisa dibilang tahun dimana saya bertemu banyak Travel Blogger ibukota. Kebanyakan dari mereka memang tinggal di Jakarta, Tangerang, dan Bogor. Mulai dari acara talkshow, nongkrong bareng sambil ngopi, liburan bareng hingga ada yang menemani saya tidur bareng.
Foto Bareng Blogger-Blogger Hitzz #TravelNBlog4
Ngopi Bareng Blogger-Blogger kece di Starbuck Sarinah,
Grufie Bareng Blogger Hore2

MOTO GP SEPANG 2015 MALAYSIA
Sempat terpikir bahwa paspor yang saya bikin di tahun 2013 lalu, akan tidak digunakan sampai tiba expired. Memang sih awal mulanya bikin paspor hanya buat gaya-gayaan persiapan saja. Mungkin saja ada yang ajakin liburan ke luar negeri. Iya gak?

Rezeki memang tidak pernah ada yang tau kapan itu datang, begitupun tiket gratis dari maskapai Air Asia Jakarta-Kuala Lumpur PP ditambah menginap Hotel bintang lima. Mungkin ini namanya rezeki anak sholeh. Tanpa berpikir panjang, saya pun menggunakan tiket itu untuk menonton langsung Moto GP Sepang 2015, demi menyaksikan Valentino Rossi menendang Marc Marques.


Semoga petualangan di Tahun 2016 jauh lebih menarik lagi. Saya masih punya banyak mimpi-mimpi yang belum tercapai salah satunya perjalanan menuju pelaminan. Aminkan yah..



Menyusuri Kawasan Menteng Bersama @JKTgoodguide


Kawasan menteng tidak sekedar hanya kawasan perumahan elit Jakarta, tapi apakah kamu tahu kalau di Menteng itu banyak catatan sejarahnya tentang pemimpin dunia, sebut saja Soeharto, bapak presiden kedua Indonesia yang rumahnya di Jalan Cendana, ada Obama si anak Menteng, presiden Amerika saat ini, yang pernah sekolah di SDN 1 Menteng, ada juga cerita Soekarno, yang lagi merundingkan teks proklamasi di rumah Laksamana Maida. Menteng yang dulu masih seperti menteng yang sekarang, ceritanya juga masih sama belum ada yang berubah.

Minggu pagi (18/10) saya berjalan menuju Taman Suropati, lokasinya lumayan dekat dari stasiun Cikini, tempat saya turun dari commuter line kemudian melanjutkan jalan kaki ke Taman Suropati, lokasi meeting point pagi itu sebelum menyusuri kawasan menteng bersama @JKTgoodguide. Ini walking tour kedua yang saya ikuti, sebelumnya saya sudah ikut juga di walking tour Pasar Baru. Konsep wisata yang ditawarkan @JKTgoodguide berbeda, dimana ingin mengenalkan Jakarta tidak sebagai kota metropolitan tapi sebagai kota yang penuh dengan sejarah masa lalu.

Pagi itu peserta lumayan banyak, makanya kami dibagi beberapa kelompok. Saya tergabung dengan kelompok dua bersama Citra, Adlin, Winny, Fahmi dan Putri. Ada banyak travel blogger yang ikutan jadinya kami seperti kopdar sambil berjalan, seperti Citra, blogger asal Aceh yang akhirnya kami dipertemukan di acara walking tour ini.

“ Walking Tour Menteng kali ini kita akan mengunjungi 9 tempat bersejarah, siapkan uang lima ribu dan dua ribu untuk tiket masuk dua museum yang berbeda ”. kata pemandunya dalam briefing sebelum memulai walking tour

Saya semakin bersemangat menyusuri kawasan menteng, Oiya ada yang tahu gak sejarah nama Menteng? Jadi kata Menteng itu adalah nama sebuah pohon yang dulunya banyak tumbuh disini tapi saat ini sudah tidak ada lagi, tapi jika penasaran seperti apa pohon menteng itu, kita bisa menemukannya di Kebun Raya Bogor.

Taman Suropati – Gedung Bappenas – Gereja Paulus
Perjalanan dimulai dari Taman Suropati, taman yang sejuk nan rimbun dengan pohon-pohon yang besar menjulang, ada air mancur dan ada juga patung-patung. Patung yang ada di Taman Suropati merupakan sumbangan dari enam negara pendiri ASEAN sebagai simbol persahabatan. Bentuk patungnya bermacam-macam dan lokasinya ditempatkan secara terpisah
.
Selanjutnya berjalan menuju depan Gedung Bappenas. Sebuah patung Pangeran Dipenogoro dengan kudanya dibangun tepat diseberang Taman Suropati dan dikelilingi Taman Bunga, tapi sayang banget ada banyak coretan-coretan dan bau pesing yang menyengat.
Tampak depan Gereja Paulus
Gedung Bappenas hanya bisa dilihat dari luar, tapi konon ceritanya gedung ini dulu bekas bangunan Belanda yang dulunya dijadikan tempat berkumpul para penganut kepercayaan mistis. Seberang Jalan Gedung Bappenas terdapat Gereja Paulus, di ujung atapnya terdapat patung ayam. Mirip seperti Gereja Ayam di Kawasan Pasar Baru, ceritanya juga sama. Sebenarnya pengunjung bisa masuk dalam gereja tapi berhubung hari minggu jadi kita tidak diperbolehkan masuk dengan alasan agar kami tidak mengganggu jemaat yang sedang beribadah. Disini kami sempat ditegur oleh petugas keamanan.

“Dilarang memotret disini, kalian ini darimana?” kata bapak kemanan lengkap dengan pakaian seragamnya

“Maaf pak, kami dari Jakarta Good Guide” Balas pemandu kami dengan ramah

Belakangan baru saya tahu kalau di daerah sini memang aturan memotretnya agak ketak, karena disini terdapat banyak kantor kedutaan besar salah satunya kedutaan besar Amerika. 

Museum Perumusan Naskah Proklamasi
Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju Museum Perumusan Naskah Proklamasi, lokasinya tepat disamping Gereja Paulus. Tampak dari luar hanyalah sebuah rumah tua dengan ciri khas arsitektur Eropa, tingkat dua dengan warna dominan putih, Iya memang ini adalah bekas rumah yang dijadikan Museum Perumusan Naskah Proklamasi. 

Ada yang tahu tidak sejarahnya? Kalau tidak, buka kembali buku sejarah. Jadi rumah itu milik Laksamana Muda Tadashi Maeda, perwira tinggi angkatan laut Jepang. Sejak penjajah beralih dari Belanda ke Jepang, rumah ini dijadikan sebagai kediaman Laksamada Maeda. Ceritanya panjang, kenapa harus di rumah Laksamada Maeda? ternyata perwira ini menaruh cinta terhadap Indonesia, hingga dia mau dijadikan rumahnya sebagai tempat terjadinya peristiwa penting bangsa Indonesia walaupun di akhir hayatnya dia dianggap sebagai penghianat oleh pemerintah Jepang, tapi tidak usah khawatir pilihanmu sudah benar dan kami bangsa Indonesia akan selalu mengenang jasamu Laksamana Maeda.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi
Tampak dalam museum, terlihat beberapa ruangan yang saling berhubungan, setiap ruangannya memperlihatkan sedetail mungkin bagaimana cerita di rumah itu. Ada meja panjang lengkap dengan kursinya, disitulah duduk Ir. Soekarno, Bung Hatta dan Ahmad Soebardjo sedang merundingkan naskah proklamasi. Di ruangan lain juga terdapat patung bapak Sayuti Melik sedang mengetik naskah proklamasi yang sudah dirundingkan. Kejadian malam itu benar-benar bisa dirasakan dengan jelas. Saya sungguh beruntung bisa berkunjung kesini.
Ir. Soekarno, Moh. Hatta dan Ahmad Soebardjo lagi berunding, Bukan cinta segitiga yah!!
Naskah pertama teks Proklamasi, kalau kata-katanya tidak sesuai langsung dicoret.
Naskah Pertama Teks Proklamasi
Didalam museum juga terdapat beberapa hiasan dinding berupa foto para tokoh yang hadir di malam itu, lengkap dengan biografinya. Juga terdapat sebuah ruangan yang saat ini dijadikan sebagai mini bioskop. Sayangnya saat kami berkunjung tidak sempat masuk karena masih harus melanjutkan perjalanan lagi.
Dibelakang museum terdapat lorong bawah tanah, yang katanya bisa sampai di Taman Suropati.
SDN 1 Menteng
Tibalah kami di  SDN 1 Menteng, tempat Barry, nama kecil Barrack Obama yang saat itu mengenyam pendidikan disini ketika tinggal di Indonesia. Berhubung hari libur, jadi kami tidak bisa masuk kedalam. Dari luar, kami bisa melihat sebuah patung Obama ketika kecil, yang katanya dibangun saat Barrack Obama hendak berkunjung ke Indonesia.

Selain itu di gapura gerbangnya tersimpan sebuah plakat besi bertuliskan nama Barrack Husein Obama, the 44th the presiden of United States of America, attended this school from 1969-1971. 
Inilah sekolah, tempat Obama pernah mengeyam pendidikan.
Museum Jendral AH. Nasution
Sebuah patung berseragam lengkap di depan sebuah rumah. Inilah rumah Jenderal Besar Dr. AH. Nasution yang terletak di Jalan Teungku Umar No. 4 yang kemudian menjadi Museum Sasmita Loka Jenderal AH. Nasution di tahun 2008 setelah beliau wafat. 

Waktu kecil dulu saya sering ikut nonton bareng di rumah kepala dusun di kampung saya, karena cuma dialah salah satunya yang punya televisi tabung saat itu. Setiap malam tanggal 30 September, kami menonton kekejaman PKI yang menculik dan membunuh para jenderal, tapi di salah satu adegan film terdapat cerita tentang Jenderal AH. Nasution yang berhasil kabur dari rumahnya tapi beliau harus mengorbangkan Ade irma Nasution, putri pertamanya yang tertembak oleh para tjakrabirawa (saat ini namanya pasampres). Tapi apakah film itu benar adanya? 

Untuk masuk ke Museum ini, pengunjung diharuskan membayar lima ribu. Adegan malam itu terlihat jelas dengan patung yang sengaja dibuat, ada patung Ade Irma Nasution yang sedang digendong ibunya diberondong senjata oleh para tjakrabirawa, ada tetesan darah Ade Irma Nasution di lantai, ada patung Jenderal AH. Nasution bangkit dari tempat tidurnya dan melompat di pagar rumahnya. Semuanya itu terlihat jelas dalam rumah ini. Tidak hanya itu, bekas peluru di pintu kamar dan didalam dinding dibiarkan begitu saja sebagai saksi. Apapun alasannya ini sangat tragis dan kejam. 

Pengunjung juga diantar menuju kamar Ade Irma Nasution, tempat tidurnya masih seperti dulu dan terdapat beberapa lemari yang berisikan pakaiannya. Saya sempat melihat foto Ade Irma Nasution yang tergantung di dinding, ketika hendak memotretnya, saya ditegur Winny agar tidak usah mengambil gambarnya. Dia mengerutkan kening sambil mengusap tangannya, bulu kuduknya berdiri dan dia merasakan sesuatu yang beda dengan foto itu, saya pun menurut dan keluar dari ruangan itu. Bukan bermaksud menakuti, tapi saya sangat merekomendasikan untuk mengunjungi museum ini.
Bagian depan rumah Jenderal AH. Nasution
Adegan sebelum Jenderal AH. Nasution kabur dari rumahnya.
Jalan Cendana - Galeri Seni Kunstkring - Masjid Cut Meutia
Setelah dari Museum, kami menuju Jalan Cendana. Apa yang kamu tahu tentang Jalan Cendana? Jalan Cendana yang begitu terkenal di era orde baru, bahkan jalan ini hanya bisa dilewati oleh keluarga Cendana. Rumah kediaman Soeharto terletak di Jalan Cendana, saat kami berkunjung kesana rumahnya masih dijaga walaupun terlihat kurang terawat. 

“ Seandainya rumah ini mau dijadikan Museum, tapi sayangnya keluarga dari Soeharto tidak mau. Mungkin takut kalau kisahnya diungkit kembali “ Kata seorang bapak yang ikut dalam rombongan walking tour.

Saya juga ikut sepakat dengan bapak tersebut. Rumah mantan presiden Indonesia yang memimpin negeri ini selam 33 tahun tentunya menyimpan banyak cerita. 

Rumah Mendiang Soeharto di Jalan Cendana
Tidak jauh dari Jalan Cendana, kami menuju sebuah gedung tua namanya Galeri Seni Kunstring. Gedung ini sudah beberapa kali berganti fungsi. Terdapat sebuah tulisan IMMIGRASIE NST- DJAWA N IMMIGRASI di dinding luar atasnya, iya gedung ini pernah dijadikan sebagai kantor imigrasi Jakarta Pusat. Gedung ini juga pernah dijadikan sebagai café buddha bar tapi tidak bertahan lama karena mengundang banyak protes. Saat ini Galeri Seni Kunstring sebagai café dan restaurant, tempat ini juga sering dijadikan sebagai tempat pameran, saat kami berkunjung sedang ada pameran foto. 

Galeri Seni Kunstring, ada kemiripan dengan bangunan Lawang Sewu.
Tibalah kami di destinasi terakhir, Masjid Cut Meutia. Sebelum dijadikan masjid pada tahun 1987, bangunan ini juga beberapa kali berganti fungsi. Awalnya dari Kantor Biro Arsitek, kemudian berganti menjadi Kantor Jewatan Kereta Api. Namun setelah Indonesia merdeka, gedung ini berganti fungsi lagi menjadi Kantor Urusan Agama. Hingga akhirnya menjadi Masjid Cut Meutia, makanya ini salah satunya masjid yang dari luar tidak seperti masjid, karena memang sejarahnya tidak dibangun sebagai Masjid.

Menyusuri Kawasan Menteng bersama Jakarta Good Guide memberikan saya banyak cerita tentang sejarah Menteng, sejarah yang mungkin kini terlupakan. Belajar sejarah bukan berarti kita tidak bisa bangkit dari cerita masa lalu, tapi bukankah Ir Soekarno sudah mengingatkan kita agar jangan sekali-kali melupakan sejarah. Setelah mengunjungi Menteng, saya masih mau ikut lagi di acara walking tour Glodok, Kota Tua dan Monas. Tiga dari 5 destinasi walking tour yang belum saya datangi. Jika kamu tertarik untuk ikutan, bisa liat infonya di twitter @JKTgoodguide