Wednesday, 2 July 2014

Mengejar Sunrise di Bukit Kusnodo Bontang

Langit Kota Bontang masih gelap ketika saya bersama teman sedang semangatnya menuju Bukit Kusnodo untuk menyaksikan sunrise. Sebuah daerah perbukitan sebelah utara Kota Bontang dimana letaknya sedikit lebih tinggi sehingga kita bisa melihat view Bontang dari ketinggian. Dari Bukit Kusnodo kita juga bisa melihat obor dan tangki PKT dan PT. Badak LNG, dua perusahaan besar di kota Bontang.

Bukan naik motor atau naik mobil apalagi jalan kaki, tapi kami menempuhnya dengan naik sepeda. Aktivitas baru yang saya geluti selama di Bontang bahkan kami punya kelompok bersepeda sendiri, kami ini Semut Hitam, namanya sedikit aneh tapi nama ini punya arti sendiri bagi kami.

Bukan Indonesia kalau tidak telat, ya seperti itulah yang terjadi, awalnya kami akan berangkat Pukul 05.15 tapi malah molor 30 menit kemudian. Apapun yang terjadi kami tetap berangkat walaupun tujuan utama kami rasanya sulit untuk dicapai. Saya memimpin teman-teman dan berada di garis terdepan menyusuri jalan raya kota Bontang. Udara dingin pagi hari seakan memberikan semangat agar tak patah semangat. Tanjakan HOP (Area Perumahan Umum PT. BADAK) menyambut kami, laju sepeda saya kencangkan, dengan sedikit napas ngos-ngosan akhirnya kami bisa melewatinya. Ini baru babak awal masih ada tanjakan selanjutnya.

Sebenarnya ada banyak jalur menuju Bukit Kusnodo, namun yang paling cepat lewat Kawasan Perumahan PKT (Pupuk Kaltim). Setelah melewati pintu masuk pos PKT kemudian belok kiri, harusnya itu yang kami lewati tapi kami malah lurus dan sempat kesasar. Perjalanan tanpa tersesat itu bagaikan sayur kurang garam, hukum alibi berlaku.
Saya beradu kecepatan dengan matahari yang sudah mulai beranjak dari peraduaanya, tapi apa daya saya kalah capat. Saya berhenti sejenak kemudian menikmati Indahnya Sunrise walaupun bukan di tempat tujuan rencana awal. Sebuah perjalanan tak mesti harus tiba di tujuan tapi bagaimana cara kita menikmatinya. 
Sang Mentari sudah mulai muncul
Langit gelap sudah mulai berganti
Hari sudah mulai terang, mengejar sunrise pun sudah gagal tapi kini berganti sunrise yang menemani kami menuju Bukit Kusnodo. Sebelum tiba, sebuah tanjakan bertingkat berada di depan yang harus kami lalui. Singgah sejenak sambil istirahat dengan sebotol air mineral sebagai pelepas dahaga di pagi hari. 

Puncak Bukit Kusnodo sudah di depan mata namun itu tak sedekat dengan apa yang dilihat, dibutuhkan tenaga untuk mengayuh sepeda dan semangat untuk mencapai puncak. Pantang juga bagi kami turun dari sepeda kemudian mendorongnya. 

Tanjakan terakhir sebelum puncak
Jalanan beton membelah Bukit Kusnodo
Sebuah pencapaian bisa berada di Bukit Kusnodo, walaupun tak sesuai rencana awal tapi perjalanan ini mengajarkan saya banyak hal tentang segala sesuatu tak selamanya harus sesuai dengan perencanaan. Jika mundur sedikit ke belakang, seandainya kami start lebih cepat ada kemungkinan kami bisa menyaksikan sunrise dengan balutan gradasi warnanya. Apapun itu, saya tetap bersyukur karena kini saya telah menemukan tempat paling keren di kota Bontang.

Bagi saya Bukit Kusnodo merupakan tempat bisa kalian kunjungi untuk para penikmat sunrise, selain itu tempat ini bisa menyaksikan sunrise dan sunset dari satu tempat. Terdapat pula menara yang terbuat kayu ulin, tapi sayangnya menaranya tak terawat.

Temukan cerita perjalanan saya selanjutnya mencari sisi keindahan kota Bontang. Setelah Pulau Beras Basah dan Bukit Kusnodo, saya yakin akan ada lagi tempat-tempat keren yang belum saya temukan. 

Ekspresi kegembiraan bisa berada di puncak
Sule, Guna dan Erick #Semut Hitam Crew

Let's Travel to Experience the Beauty of Indonesia
Salam IndonesianHolic

Sunday, 20 April 2014

Beras Basah, Pulau Kecil nan Cantik dari Bontang

Landscape Pulau Beras Basah Bontang
Sejak kedatangan saya di Kota Bontang maret kemarin untuk urusan pekerjaan, perusahaan tempat saya bekerja mengutus ke Bontang untuk OJT On Job Training di perusahaan pengolahan gas LNG. Bontang memang bukan kota tujuan wisata namun tak selamanya kota ini tak memiliki sisi untuk dieksplore. Kesempatan untuk menyambangi kota Bontang tak saya sia siakan untuk menemukan pariwisata baik itu wisata bahari, kuliner, alam dan sejarah. Hari weekend saya memfaatkan betul untuk berlibur karena liburan itu bisa dilakukan dimana saja asal tujuan dari liburan itu tercapai.

Sebelum mengulas liburan saya di Bontang, mari mengenal lebih dekat tentang kota yang akan saya tinggali  satu tahun kedepan. Kota Bontang yang selama ini dikenal sebagai kota Industri. Bontang merupakan salah satu kotamadya di Provinsi Kalimantan Timur, jika dari Balikpapan dapat ditempuh sekitar 6 - 7 jam dengan melintasi kota Samarinda.

Moment weekend itu moment yang paling ditunggu, dimana minggu kemarin 5 April 2014 saya mengunjungi sebuah pulau yang ada di kota Bontang, pulaunya terletak di sebelah timur dari kota industri ini. Untuk menuju Pulau Beras Basah ada dua jalur yakni melalui Pelabuhan Tanjung Laut yang diperuntukan untuk masyarakat umum dengan jarak tempuh sekitar 45 menit dengan kapal kayu dan Pantai Marina yang merupakan jalur khusus untuk para staf, tamu dan karyawan PT. Badak LNG, jarak tempuh lebih singkat hanya 15 menit dengan speed boat.

Wajib pakai life jacket sebelum naik speedboat
Motor Speedboat membelah lautan
Kami sudah berkumpul di Pantai Marina pukul 10.00, ke Pulau Beras Basah kaminnaik speed boat di dermaga Pantai Marina. Speed boat bisa muat 10 - 15 orang. Hal penting yang perlu diperhartikan sebelum berangkat kami harus memakai life jacket sebagai bagian dari dari safety. Speed boat yang membawa kami melaju kencang membelah laut yang tenang tapi itu tidak menjamin perjalanan lancar, terkadang kami merasa terhempas dan histeris ketika speed boat menabrak ombak. Tepat 15 menit kami sudah mendekat di sebuah pulau kecil dengan menara mercusuar yang menjulang tinggi sebagai tanda Pulau Beras Basah. Saya sudah tak sabar menikmati pulau yang terkenal dengan pasir putih dan airnya yang jernih.

Pulau Beras Basah dulunya dikelola oleh PT. Badak sebagai tempat berlibur para karyawannya, namun tahun kemarin pulau ini sudah diperuntukkan untuk masyarakaat umum. Pulau Beras Basah memiliki luas sekitar 5 ha yang ditumbuhi pohon kelapa mengelilingi pulau nan kecil ini. Pulau Beras Basah, konon ceritanya sebuah kapal dengan muatan beras dari Makassar terhalang ombak besar sebelum tiba di Bontang hingga akhirnya muatannya diturunkan di pulau ini.

Pulau Beras Basah terlihat ramai namun ini tak seramai di hari minggu. Kami mencari tempat untuk menyimpan barang dan sebuah pohon yang cukup rindang menjadi pilihan untuk menggelar tikar diatas pasir sambil istirahat. Saya memilih istirahat sambil menunggu cuaca bersahabat ketika yang lain sudah berlarian menuju pasir putih. Niat awalnya saya datang kesini ingin mengeksplore setiap lekukan pulau ini saya urungkan dulu, selojoran di atas hammock jauh lebih nikmat ketimbang berpanas- panas ria.


Pulau ini dilengkapi beberapa gasebo, arena permainan dan sebuah rumah untuk penjaga pulau. Beberapa dari pengunjung juga lebih memilih mendirikan tenda bulan. Semenjak dibuka untuk umum memang pulau ini menjadikan tujuan wisata favorit, tapi anda harus siapakan uang lebih banyak jika anda seorang yang tak mau repot. Untuk menggunakan kamar mandi harus membeli 1 jeregen air Rp. 5.000,- dan jika ingin menikmati mie gelas di warung dihargai Rp. 20.000,-. Saran saya sebelum kesini hendaknya membawa bekal dan air minum. Pulau ini memang tak mempunya sumur air tawar jadi air tawar diambil dari Bontang menggunakn perahu.

Ketika cuaca bersahabat saya beranjak dari hammock untuk bergabung dengan yang lain. Pulau ini dapat dijelajahi setiap lekukannya hanya dengan berjalan kaki. Setiap sisi pulau ini memiliki keindahan tersendiri namun paling bagus untuk mandi di sebelah utara karena sisi kedalamannya bertahap jadi baik untuk pengunjung. Selain itu anda juga bisa mencoba banana boat untuk keliling pulau. Saya kali ini tidak mencoba apapun, hanya berjalan keliling pulau sambil mengabadikan setiap moment yang ada.

Pasir putihnya yang bersih dan airnya yang jernih menjadi daya tarik para pengunjung. Jembatan kayu yang menjorok ke laut menjadi pemandangan tersendiri.

Liat seperti ini pengennya langsung nyemplung
Pasir Putih Pulau Beras Basah
Deretan kapal nelayan
Eksis dulu sebelum pulang
Foto Bersama
Menghabiskan waktu hampir lima jam di Pulau Beras Basah membuat saya belum puas karena saya tak bisa menikmati senja sambil menunggu moment sunset. Kedatangan kami memang sudah terjadwal kapan datang dan kapan pulangnya tapi itu sudah sangat membuat saya senang bisa menikmati hari libur di pulau kecil nan cantik dari Bontang.
 
Saya masih pengen menikmati indah bawah lautnya dengan snorkling ria dan menikmati indah sunsetnya. Selalu saja ada alasan untuk kembali di setiap tempat saya datangi. 
 
Menunggu speed boat yang akan mengantar kami pulang
Let's Travel to Experience the Beauty of Indonesia
Follow twitter @indonesianholic

Sunday, 13 April 2014

Foto : Wajah Baru Muara Sungai Jeneberang

Muara Sungai Jeneberang
Muara Sungai Jeneberang terletak di kawasan wisata Benteng Somba Opu. Jika dulunya tempat ini hanya dikenal sebagai pengendali debit air Sungai Jeneberang yang dipenuhi dengan enceng gondok namun kini telah berubah total. Muara Sungai Jeneberang tak lagi ditemukan enceng gondok namun jauh lebih tertata dan terurus. 
(Muhammad Akbar : Agustus 2013)

 Foto ini diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan edisi 40 dengan tema Danau oleh 

Friday, 28 March 2014

Aneka Kuliner Favorit Selama di Cepu

Ini sebuah catatan saya dalam menjajah kuliner di Cepu. Tak perlu begitu kaget dengan nama kota tersebut, bukan tentang pengalaman ngebolang saya melainkan ini hanya pengalaman saya selama di Cepu yang hampir enam bulan menjalani proses pendidikan. 

Cepu merupakan sebuah kota kecil, salah satu kecamatan di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Cepu juga merupakan gerbang terakhir Jawa Tengah sebelum masuk Jawa Timur dimana hanya dibatasi oleh sungai Bengawan Solo. Selain itu Cepu juga dikenal sebagai kota minyak karena terdapat banyak sumur minyak.  Masih membutuhkan penjelasan tentang Cepu? selengkapnya baca disini

Dua tahun terakhir selama di pulau jawa, seperti yang saya ceritakan sebelumnya kalau saya menghabiskan waktu sekitar enam bulan di kota Cepu untuk mengenyam pendidikan di Pusdiklat Migas Cepu, salah satu instansi pelatihan dan pendidikan minyak dan gas dibawah naugan Kementrian ESDM. Kota ini telah banyak melahirkan para pekerja kilang yang sudah tersebar di seluruh perusahaan Migas yang ada di Indonesia maupun yang ada di dunia, semuanya berawal dari dari sini. Tak hanya itu di Cepu juga terdapat  AKAMIGAS STEM, perguruan tinggi kedinasan kementerian ESDM. Akamigas merupakan sekolah dibawah kerjasama kementerian.
Selama di Cepu saya tinggal di Widya Patra 3, gedung tiga lantai milik Pusdiklat Migas yang diperuntukkan untuk para pelajar dengan suasana seperti asrama atau mess. Hidup disini serba terjamin dari transport, laundry dan makan. Khusus untuk masalah makanan, ini yang menjadi kendala saya selama di Cepu. Beberapa menu yang disajikan tidak sesua dengan tenggorakan saya, solusinya cari jajanan di luar.

Ada beberapa warung makan yang sangat saya rekomendasikan jika anda sedang berada di Cepu.

BAKSO & MIE AYAM MUTIARA
Bakso dan Mie Ayam Mutiara lokasinya di Jalan Sorogo tepatnya di depan Pusdiklat Migas Cepu. Sesuai dengan nama warungnya, menu yang tersedia ada Bakso, Mie Ayam dan Mie Ayam Bakso. Jika kalian bertanya apa menu pavorit saya kalau datang kesini pasti jawabnya Mie Ayam Bakso, harganya tidak mahal amat sesuailah dengan isi dompet. Semangkok Mie Ayam Bakso dihargai Rp. 10.000,- , Murah kan??!!!

Mie Ayam Bakso

AYAM KREMES DEPOT PAK KUMIS
Ayam kremes depot pak kumis lokasinya di kawasan taman 1000 lampu dekat dari RSUD Cepu. Menunya disini ada banyak seperti warung makan pada umumnya tapi yang sangat populer ayam kremes. Ayam goreng yang diselimuti campuran telur dan tepung makanya disebut ayam kremes, tak hanya itu sambalnya juga sangat khas dan ada juga lalapan. harganya sedikit lebih mahal tapi jika dibandingkan dengan rasanya itu tak ada apa-apanya, 1 porsi ayam kremes dihargai Rp. 19.000,-. Pokoknya makan disini dijamin manyoos dan paling enak ditutup dengan Es Teh.

Paket Ayam Kremes

SOTO LAMONGAN CAK BONDET
Soto Lamongan cak bondet lokasinya di jalan Stasiun KA dekat dari SMA 1 Cepu. Sesuai dengan namanya disini tersedia Soto Lamongan itu artinya kuliner ini berasal dari Lamongan. Setiap daerah punya penamaan soto sesuia dari daerah asalnya namun yang berbeda dari soto lamongan adalah semangkok sop sudah dicampur nasi didalamnya, isinya ada daging ayam, irisan telor dan bawang goreng.

(Sumber : kaskus)
CFC
Ini bukan Ayam KFC pada umumnya namun rasanya beda tipislah. CFC ini lokasinya di Jl. Pemuda dekat dari bekas rel KA. Ada beberapa paket yang tersedia tapi saya sering milih menu paket 4 (nasi + dada + es teh) dari segi harga sangat bersahabat, hanya Rp. 13.500,- sudah bisa memilih paket ini. CFC juga bisa delivery untuk area Cepu & sekitarnya. Restorannya dua lantai dan di setiap dindingnya terdapat lukisan musik, pokoknya tempatnya cukup keren lah untuk yang pengen suasana romantis terutama yang di lantai 2.

CFC Cepu Fried Chicken

Let's Travel to Experience The Beauty of Indonesia
Follow Twitter @indonesianholic



Tuesday, 25 March 2014

Nikmatnya Ayam Panggang Bu' Suryani di Desa Gandu

Ayam Panggang Desa Gandu
Perjalanan pulang dari Sarangan kami sempatkan menikmati kuliner di kawasan ayam panggang, dikenal sebagai desa ayam panggang "Sentra Ayam Panggang Desa Gandu" sebuah gang kecil yang semua rumah menyajikan ayam panggang. Sentra ayam panggang tepatnya berlokasi di jalan Ngawi - Magetan, Kecamatan Karangrejo Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

Bus yang membawa kami berhenti di sebuah desa yang terbilang sepi. Sepanjang perjalanan saya tertidur pulas dan ketika dibangunkan saya kebingungan kenapa bus berhenti disini yang biasanya berhenti di SPBU atau mesjid. Kami semua turun dari bus kemudian menyusuri sebuah gang kecil dimana semua rumah penduduk menyajikan ayam panggang. Setiap rumah memiliki nama warung sesuai dengan nama penghuninya, diantaranya ada Bu' Bari, Bu' Mar, Mbak Lastri, Bu' Setu, Bu' Sarmi, Bu' Sri, Mbak Mimin dan Bu' Suryani. Mereka menjual berdampingan tetapi mereka punya prinsip bahwa rezeki sudah ada yang mengatur sehingga para ibu -ibu mempunyai langganan sendiri tanpa ada rasa kecemburuan.

Kami memilih ayam panggang Bu' Suryani yang lokasinya paling ujung dari semua deretan rumah makan. Sebuah rumah dua lantai berwarna putih dengan corak ungu. Terdapat sebuah balai-balai dan ayunan yang terbuat dari kayu. Ada yang berbeda disini dimana tak ada satupun kursi dan meja seperti rumah makan pada umumnya, yang ada hanya hamparan tikar anyaman plastik yang dibentangkan. Pengunjung menikmati hidangan ayam panggang dengan konsep lesehan.

Tampak Depan Rumah Bu' Suryani
warung makan dengan konsep lesehan
Kami memesan dua porsi ayam panggang dengan varian rasa pedas dan gurih dengan sambal bawang, sambal terasi, lalapan dan aneka macam sayur. Ayam panggang rasa pedas warnanya kemerahan karena cabenya sedangkan ayam panggang rasa gurih warnya agak kekuningan dari rempah kunyit. 

Ayam panggang yang disajikan berasal dari ayam kampung sehingga dagingnya sangat empuk. Tak hanya itu ayamnya dipanggang menggunakan tungku tanah dan kayu bakar sehingga aromanya sangat terasa. Paduan sambal dan ayam panggangnya sungguh nikmat hingga membuat saya pantang untuk mundur sebelum habis walaupun saya dibuat ngos - ngosan oleh sambalnya.

Ayam Panggang Pedas dan Ayam Panggan Gurih
Tungku Tanah dengan Kayu Bakar
Bu' Suryani (baju batik)
Tak salah jika saya harus mengatakan bahwa Ayam Panggang Bu' Suryani merupakan ayam panggang paling enak yang pernah saya nikmati. Berkunjung ke Ngawi, sepertinya harus sempatkan berkunjung ke Desa Gandu untuk menikmati ayam panggangnya. Jika Madura punya Bebek Sinjay dan Makassar punya Coto Makassar, Desa Gandu juga punya Ayam Panggang yang bisa diadu kenikmatannya. Recomended

Toss Es teh dulu sambil Elus perut

Sentra Ayam Panggang Desa Gandu

Ayam Panggang Bu' Suryani
(0351) 7788088

Lets travel to experience the beauty of Indonesia
@indonesianholic

www.indonesianholic.com


Sunday, 9 March 2014

Outbond Ceria di Kampoeng Pinus Sarangan


Masih dalam edisi liburan bersama di Sarangan dimana rundown acaranya kami juga mengunjungi Kampoeng Pinus Sarangan. Ada banyak permainan outbond yang tersedia tergantung mau mencoba yang mana tapi harus disesuaikan dengan tingkat adrenalin dan selera.

Lokasinya masih berada di kawasan Sarangan, cuaca yang dingin dengan pohon pinus yang menjulang tinggi dan semua bangunannya terbuat dari bahan dasar bambu sehingga terkesan alami sehingga pengunjung merasa tenang dan adem. Langsung saja yah wahana apa saja yang ada disini, Cekidot !!!

FLYING FOX 
Outbond flying fox merupakan permainan yang sering ditemukan di wahana outbond lainnya. Meluncur dari titik ketinggian dengan sebuah tali dan sebuah pengaman harness. Setiap peserta kami hanya diberikan kesempatan sekali untuk meluncur.

Sebelum memulai kegiatan, salah satu instruktur dari Kampoeng Pinus Sarangan memberi pengarahan dan bekal ilmu tentang peralatan yang digunakan serta kekuatan tiap alat outdoor. Hal ini sangat penting bagi kami sebelum melakukan kegiatan. Setelah pengarahan selesai, dilanjutkan dengan olahraga ringan untuk streching agar badan kami tidak kaku sehingga tidak terjadi cedera. Streching dimulai dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Streching ringan sebelum flying fox
Berhubung lintasan flying fox hanya satu maka kami harus mengantri sambil menunggu giliran. Saya mencoba menikmati dengan duduk bersandar di bawah pohon pinus sambil menghirup udara segar. Tak hanya itu kami juga saling bercanda lepas yang membuat kami tertawa terbahak-bahak. Terkadang harus memojokkan salah seorang teman sebagai bahan candaan walaupun ini hal yang kurang baik tapi dengan sebuah candaan yang membuat keakraban mengalir. 

Tak terasa tiba giliran saya untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan teman sebelumnya. Saya harus berjalan dulu menuju titik ketinggian kemudian menaiki sebuah tangga menuju atas pohon. Tak hanya itu sebelum ke titik peluncuran masih ada lagi jembatan dua tali yang harus dilalui yang terhubung diatara dua pohon pinus. Bagi saya ini bukanlah tantangan yang membuat saya harus menjerit atau berteriak ketakutan seperti teman kami yang perempuan.

Setelah tiba di titik peluncuran, petugas mengaitkan carbiner di tali sambil mengarahkan saya untuk memegang tali sebagai pegangan. Sempat khawatir dan sedikit deg-degan juga tapi dengan penuh keyakinan saya meluncur sambil berteriak, bukan teriak ketakutan tapi ini cara saya menikmati permainan flying fox.

Eksis dulu  sebelum naik
Meluncur dari titik ketinggian
ATV & MINI TRAIL
Selain Flying Fox ada juga ATV bisa dijadikan sebagai pilihan wisata. ATV merupakan kendaraan bermotor untuk segala medan yang memiliki 4 buah roda. Beberapa teman saya juga mencoba mengendarai mobil ATV dengan mengelilingi lintasan yang sudah tersedia. Mengendarai ATV tak semudah yang dilihat butuh keahlian dan kekuatan tangan terutama ketika melewati jalur penanjakan. Sensasi trailnya sangat terasa, kami meneriaki ketika salah seorang teman ketika menabrak dinding tanah atau tertabrak di pohon pinus. Saya tak ikut main ATV karena tak banyak waktu, saya lebih mengutamakan ikut Downhill.



Eksis Bersama di Game ATV

DOWNHILL
Downhill merupakan olahraga bersepeda menuruni pegunungan yang sangat memacu adrenalin. Adrenalin saya muncul ketika melihat papan informasi, dimana tersedia olahraga Downhill maka saya langsung tertarik untuk mencobanya. Masa kecil saya memang kebanyakan di atas sepeda. Masih teringat jelas di ingatan saya dengan sepeda wim cycle hadiah dari mama yang sering saya kayuh di kampung. Tak hanya itu, saya memang paling senang naik sepeda lintas daerah bahkan waktu usia sekolah SMP sering ikut lomba balap sepeda kelas grass track bahkan untuk kelas cross juga.

Lintasan Downhill Sarangan ternyata sudah berstandar nasional bahkan beberapa bulan yang lalu Kejurnas Downhill etape terakhir lokasinya di Sarangan. Saya semakin bersemangat dan tak sabar untuk mencobanya. Sebenarnya saat itu hari sudah mulai sore bahkan kabut tipis sudah turun tapi saya tak ragu sedikit pun untuk membatalkannya walaupun sudah ditawari untuk melanjutkannya besok pagi. Pantang mundur sebelum mencoba.

Mobil pick-up membawa kami menuju titik start yang berlokasi di atas bukit. Jalanan yang berliku menanjak  membuat mobil harus bekerja ekstra hingga kami tiba di sebuah tempat start. Sebelum memulai downhill, pendamping menginstruksikan untuk memakai APD (Helm, Penutup sikut dan Penutup Lutut) dan menjelaskan medan secara umum. Tak lupa berdoa agar kami diberikan keselamatan.

Menuruni penurunan dengan lintasan yang diapit pepohonan dan jalur bebatuan membuat saya harus jeli memperhatikan jalur didepan. Saya memilih berada di urutan kedu dibelakang pendamping kemudian disusul Erick dan Edi. Tak diperlukan mengayuh kerena medannya sudah penurunan yang dibutuhkan hanya mengikuti jalurnya dan menghindari batu dan kayu. Selang beberapa menit saya sudah terjungkal dari sepeda hingga saya terperosok. Saya hanya bisa tersenyum ternyata downhill tak semudah yang dibayangkan. Saya banyak belajar dari kecelakaan tadi walaupun pada akhirnya saya terjatuh tiga kali sebelum tiba di finish.

Mengayuh sepeda gunung mengejar waktu yang mana hari sudah mulai gelap dan kabut berubah menjadi gerimis semakin membuat saya semakin bersemangat walaupun Erick dan Edi terlihat sangat berhati-hati sehingga harus singgah sejenak menunggu mereka yang jauh tertinggal dibelakang. Tak terasa kami tiba di garis finish padahal saya masih belum puas dan pengen mencobanya kembali.

Akhirnya saya juga bisa merasakan Downhill, wajib dicoba untuk menguji kemampuan anda dalam bersepeda. 

Deretan Sepeda Gunung untuk Downhill
Eksis dulu sebelum memulai
Eksis bersama Crew DownHill
KAMPOENG PINUS SARANGAN :
-  Wahana Edukasi dan Rekreasi Keluarga -
Tarif Wahana
  • Flying Fox              Rp. 40.000 - Rp. 80.000
  • ATV & Mini Trail    Rp.  30.000,- / 3 putaran
  • Downhill                Rp. 110.000,- / race
  • Paint Ball               Rp.  60.000,-

Lets travel to experience the beauty of Indonesia
@indonesianholic
www.indonesianholic.com