Sunday, 14 June 2015

10 Hal Yang Bisa Kamu Lakukan Ketika Liburan di Makassar

Apa sih yang kamu ketahui tentang Kota Makassar, tentu tidak hanya Pantai Losari dan Coto Makassar nya. Kalau cuma itu yang kamu ketahui, berarti kamu harus cepat-cepat datang ke Makassar. Makassar merupakan salah satu kota dari lima kota besar di Indonesia dari Medan, Jakarta, Surabaya, Bandung dan tentunya Makassar. Tak hanya itu, Kota Makassar merupakan gerbang dari Indonesia bagian timur, dengan adanya Bandara Internasional Sultan Hasanuddin sebagai tempat transit sebelum melancong ke Manado, Maluku dan Papua. So, jika kamu mau liburan ke Raja Ampat di Papua atau liburan ke Pantai Ora di Ambon, kamu mesti transit dulu di Makassar walaupun sekarang sudah ada juga sih penerbangan langsung.

Ada banyak yang kamu bisa nikmati jika liburan di Makassaar, mulai dari wisata kuliner, wisata belanja, wisata sejarah, wisata alam, wisata budaya dan wisata pantai. Semuanya lengkap deh, tergantung kamu mau pilih menikmati liburanmu dengan cara yang bagaimana. Tidak hanya itu, kamu tidak perlu takut kesasar atau tersesat karena kota Makassar sudah tersistematis dari segi transportasi mulai dari angkutan umum seperti taxi, pete' - pete', becak dan lainnya. Bahkan, saat ini sudah terdapat busway dengan nama Trans Mamminsata walupun masih belum terlalu maksimal seperti busway TransJakarta tapi setidaknya kota Makassar sudah selangkah lebih maju memikirkan tentang transportasi massal.

Jika sudah punya rencana akan liburan ke Makassar tapi bingung mau ngapain dan tempat menarik apa yang bisa dikunjungi atau dinikmati. Baiklah, saya akan menuliskan 10 Hal Yang Bisa Kamu Lakukan Ketika Liburan di Makassar. So, Ayo berkunjung ke Makassar


1. Abadikan moment dengan berfoto di depan tulisan Pantai Losari 


Pantai Losari merupakan salah satu landmark Kota Makassar, tempat ini memang paling wajib kamu kunjungi. Ikon kota Makassar ini sudah tidak asing lagi bagi orang Makassar dan sekitarnya. Pantai Losari terletak di sebelah barat kota Makassar, lebih tepatnya di jalan penghibur. Pantai Losari memiliki keunikan dimana dari tempat ini kamu bisa menyaksikan sunrise dan sunset dari posisi yang sama, walaupun menyaksikan matahari terbit tidak seindah menyaksikan matahari terbenam karena sebelah timurnya sudah terlalu banyak hotel yang menjulang tinggi yang menghalangi cahaya matahari pada saat terbit.

Pantai Losari terbuka setiap waktu selama 24 jam tapi paling ramai di saat jam 4 sore hingga jam 9 malam. Pantai Losari juga dapat dinikmati tanpa pungutan biaya alias gratis. Jika kamu ingin mengabadikan moment dengan berfoto di depan Pantai Losari, saya sarankan datanglah di pagi hari sehingga kamu leluasa berekspresi tanpa gangguan orang lain.

2. Menikmat Kuliner Coto Makassar


Makassar merupakan surganya kota kuliner, ada banyak kuliner yang siap memanjakan kamu dengan cita rasanya mulai dari kuliner pinggir jalan hingga kuliner yang tersedia di cafe-cafe. Kuliner Makassar paling terkenal tentunya Coto Makassar, kurang lengkap rasanya jika kamu tidak mencicipi makanan khas kota daeng ini yang terbuat dari jeroan dan daging sapi yang dihidangkan dengan kuah yang khas penuh dengan cita rasa rempah-rempah. Coto Makassar dihidangkan dalam mangkok kecil dan ketupat sebagai pasangannya.

Coto Makassar tersebar di setiap sudut kota Makassar, namanya pun sesuai dengan lokasinya seperti Coto Nusantara di Jalan Nusantara, Coto Gagak di Jalan Gagak, Coto Petarani di Jalan Pettarani. Garring Coto atau deman karena belum makan coto, sebegitu kuatnya pengaruh makanan ini terhadap orang-orang Makassar. Begitupun saya sendiri, Coto Makassar adalah salah satu makanan favorit dintara kuliner makassar lainnya. Jika kamu datang ke Makassar, saya sarankan kamu mencobanya di Coto Nusantara, Coto Maros, Coto Gagak dan Coto Paraikatte. Keempat tempat itu adalah tempat makan coto favorit saya.

3. Mengunjungi Sisa Peninggalan Sejarah Di Fort Roterdam


Fort Roterdam salah satu destinasi wisata yang wajib kamu kunjungi. Fort Roterdam adalah benteng peninggalan Kerajaan Gowa - Tallo. Masyarakat dulu mengenalnya benteng pannyua (penyu) dengan filosofi kekuatan perang bisa berjaya di darat dan di lautan. Peningalan sisa bangunan penjajah Belanda menjadi ciri khas di tempat ini, kamu akan merasa seperti di Belanda. Tak hanya itu, kamu juga bisa melihat tempat pengasingan atau tahanan  Sultan Pangeran Dipenogoro yang berada di sisi kanan pintu masuk. Ada juga Museum La Galigo, kamu bisa melihat sejarah Bugis- Makassar disini dari segi budaya, alat perang dan lainnya.

4. Mengunjungi Replika Rumah Adat Di Benteng Somba Opu


Jika Jakarta punya Taman Mini Indonesia Indah yang memparadekan semua rumah adat tiap provinsi, tak mau kalah, Sulawesi Selatan juga punya Benteng Somba Opu yang juga parade rumah adat tiap kabupaten. Rumah adat Bugis, Toraja, Makassar, dan Mandar semunya ada disini. Rumah panggung yang terbuat dari kayu dengan kombinasi bambu menjadi ciri khas rumah di Sulawesi Selatan. Tak hanya itu, jika kamu tidak sempat berkunjung ke Toraja, kamu bisa datang kesini melihat secara langsung rumah adat Tongkonan. 

5. Menikmati Es Teler Kuburan Panaikang


Cuaca panas Kota Makassar paling enak menikmati segelas es teler. Tempat menikmati es teler paling saya rekomendasikan adalah Es Teler Kuburan. Lokasinya berada di Jalan Urip Sumoharjo tepat di depan Taman makam Pahlawan. Tempatnya bukan di cafe melainkan hanya di pinggir jalan. Tempatnya boleh di pinggir jalan tapi rasanya boleh diadu terbukti tempat ini selalu ramai. Cita rasa tinggi dan soal harga pun sangat bersahabat untuk semua kantong. Segelasnya dihargai 7K ditambah suasana teduh di bawah pohon kenari yang menjulang tinggi wajib anda rasakan.

6. Mengunjungi Masjid Terbesar Di Makassar


Masjid Al Markas Al islami merupakan masjid terbesar di kota Makassar. Masjid ini dibangun tahun 1974 oleh seorang Jendral M.Jusuf, mantan panglima ABRI dari Makassar sebagai bentuk niatya mengembangkan peradaban islam di Indonesia bagian timur. Jika kamu perhatikan, masjid ini tidak memiliki kubah seperti masjid pada umumnya tapi berbentuk segiempat seperti atap rumah ada suku Bugis-Makassar dan juga mirip seperti Masjid Katangka, Masjid tertua di di Sulawesi Selatan.

7. Mengunjungi Trans Studio Makassar


Selain Pantai Losari sebagai Landmark kota Makassar, kini hadir Trans Studio Makassar sebagai  ikon baru kota Makassar. Trans Studio merupakan theme park terbesar ke dua di Indonesia setelah Trans Studio Bandung. Trans Studio Makassar terletak di Jalan Kawasan Tanjung Bunga. Ada banyak wahana yang bisa menguji adrenalin kamu dan tentunya tempat ini juga sangat cocok untuk liburan bersama keluarga. Semua kelompok umur memiliki wahana permainan tersendiri. Dengan membayar 100K, kamu sudah bisa menikmati semua wahana yang ada. 

8. Menikmati indahnya Pulau Kodingareng Keke



Pulau tak berpenghuni yang ditempuh sekitar 1.5 jam dari Pelabuhan Kayu Bangkoa Makassar ini memiliki keindahan yang luar biasa. Gradasi warna air lautnya, pasir putih dan alam bawah lautnya yang membuat kamu tidak mau meninggalkan tempat ini. Pantai Kodingareng Keke merupakan satu dari pulau dari gugusan Kepulauan Spermonde.

9. Menikmati Matahari Terbenam Di Pantai Losari


Tidak bisa dipungkiri keindahan Sunset dari Pantai Losari. Tempat ini selalu ramai dipenuhi warga Kota Makassar. Warna keemasan dari cahaya matahari membuat kamu merasa tenang berada ditempat ini. Kamu juga memesan pisang epe' sambil memandangi indahnya sore hari kota Makassar. Jika kamu seorang muslim, jangan lupa sholat di Masjid Amirul Mukminin atau lebih dikenal dengan Masjid Terapung.

10. Melihat Kelap Kelip Makassar Malam Hari Dari Karebosi SkyLounge


Candotel Hotel merupakan Hotel pendatang baru di Kota Makassar, Memiliki cafe rooftop dengan nama Karebosi Skylounge bisa menjadi pilihan destinasi wisata kamu. Kelap kelip lampu kota Makassar akan memanjakan mata kamu melihat kota Makassar dari ketinggian. Sore hari menjelang matahari terbenam adalah waktu yang tepat datang ke tempat ini, kamu juga bisa menyaksikan sunset dari tempat ini. Sebelum naik ke Rooftop, setiap pengunjung diharuskan membayar 100K/Orang, dimana nantinya kamu bisa tukarkan dengan makanan dan minuman.


Thursday, 9 April 2015

Catatan Pendakian Bersama KSR 121 Menuju Gunung Bulusaraung (Part 2)

Hujan gerimis semalaman mengguyur pos 9 malam itu membuat saya sedikit terganggu dengan tidur saya, tenda tak mampu melindungi kami dari rembesan air di sedut-sudut tenda. Kami bertiga di dalam harus saling merapatkan diri ke tengah agar tidak kebasahan, perlahan masalah itu kami bisa atasi dan akhirnya tertidur dengan lelap walaupun kontur tanah dibawah kami tidak rata tetapi bagi saya pribadi tidak menjadi masalah besar. Suara dengkur bersahut-sahutan mengalahkan suara gerimis diluar, banyak orang tak bisa tidur dengan kondisi seperti ini tapi bagi saya suara dengkur adalah dongeng pengantar tidur.

Alarm handphone tak mampu membangunkan saya dari tidur lelap, akhirnya kami agak kepagian walaupun cuaca di luar masih gelap dan kelihatannya gerimis sudah tidak turun lagi. Saya kemudian keluar dari dalam tenda dan memperhatikan area sekitar, ternyata yang lain masih berkutat di tenda masing-masing. Setelah itu, saya mengajak dua orang untuk menemani saya menuju sumber air untuk mengambil air wudhu karena persedian air di sekitar tenda sudah habis. 

Jaga dan Lestarikan
Kesempatan menyaksikan sunrise di puncak Gunung Bulusaraung masih bisa asalkan kami bisa bergerak cepat, seketika mungkin personil sudah siap summit attack, tak lupa membawa persediaan air minum dan cemilan sebagai bekal di puncak. Selain itu saya juga tak lupa pula membawa kamera, ini barang paling penting dan tak boleh ditinggal.

Kami berjalan beriringan menuju puncak, walaupun yang lainnya masih mempersiapkan dirinya masing-masing, tapi saya memilih berjalan lebih awal agar masih bisa melihat sunrise. Pos 9 menuju Pos 10 merupakan jalur menanjak dan berbatu, inilah aslinya pendakian Gunung Bulusaraung jika dibandingkan jalur yang sudah dilalui kemarin ketika menuju Pos 9. Saya beberapa kali berhenti sambil menghela nafas panjang. Saya pun menerapkan tips berjalan menuju puncak dimana ketika kita berjalan menanjak jangan pernah melihat keatas tetapi menatap ke bawahlah dan nikmati setiap langkap kakimu, ini terbukti berhasil dan membawa saya sedikit lagi berada puncak. Menara radio puncak Gunung Bulusaraung sudah terlihat, itu sebagai pertanda kalau puncak sedikit lagi.

Semangat yah..
Akhirnya saya dan beberapa teman yang lain akhirnya tiba di puncak sebelum matahari terbit. Terlihat juga beberapa pendaki yang lain sudah berada di puncak. Sambil menunggu semua tim lengkap, saya memilih sibuk sendiri dengan kamera untuk mengabadikan moment dan mengmabil beberapa foto landscape. Gradasi warna sunrise sudah tidak terlihat dan mulai tertutupi kabut tapi mataharinya belum keluar. Tak lupa juga  berfoto bersama dengan kamera Gopro, kamera mini anti hujan dengan hasil foto landscapenya membuat saya iri karena dari kemarin kamera Nikon D5100 ku belum bisa keluar karena cuaca yang tak menentu. Disinilah awalnya saya tertarik dengan kamera Gopro hingga akhirnya sepulang dari pendakian saya langsung membeli Gopro Hero4.

* * *

Setelah semuanya berada di puncak, tampak sebuah keharuan dari raut muka mereka karena berhasil mencapai puncak, terutama bagi perempuan yang ikut, apalagi beberapa diatara dari mereka ini adalah pertama kalinya mendaki. Salut dengan kegigihan mereka, mengingatkan saya ketika pertama kali ikut mendaki dan akhirnya saya merasa mendaki itu menyenangkan.

Memang cuaca di puncak memang sulit ditebak, yang awalnya cerah tiba-tiba berselimut kabut. Sekeliling puncak hanya terlihat kabut berseliweran menutup keindahan puncak pagi itu. Foto dengan cuaca seperti ini sama halnya foto dengan latar belakang tembok. Perlahan tapi pasti, kabut mulai membuka diri dan menampakkan keindahan apa yang dari tadi dia sembunyikan. Kami pun tak ingin ketinggalan dan secepatnya saling bergantian untuk berfoto. Pagi itu mengajarkan saya arti sebuah kesabaran, sabar menunggu cuaca bersahabat. 

Sisi puncak yang lain sudah menampakan dirinya.
Berdiam diri atau melompat
Kabut tipis datang lagi menutup dirinya

Mendaki kali ini juga mengajarkan saya arti sebuah perjuangan, berjuang menuju puncak walau tubuh sudah tak mampu lagi tapi dengan keyakinan tekad puncak Gunung Bulusaraung bisa saya capai. Sebuah pencapaian yang luar biasa bukan karena saya sudah berada di titik tertinggi Gunung Bulusaraung tapi saya berhasil mengalahkan semua keraguan saya. Bukankah begitu?

Puncak Gunung Bulusaraung memiliki ketinggian 1353 mdpl, memang terlihat lebih rendah jika dibanding Gunung Bawakaraeng yang memiliki ketinggian 2883 mdpl. Jumlah posnya pun sama walaupun jalur Gunung Bulusaraung sedikit lebih bersahabat, namun cukup membuat saya kewalahan hingga bisa berdiri di puncaknya. Setiap gunung beda cerita, tapi pendakian kali ini memiliki arti tersendiri bagi saya bersama keluarga besar KSR 121 PNUP

Senyum sumringah
Matahari sudah mulai meninggi, kami pun turun dari puncak menuju pos 9. Setelah tiba, tak perlu menunggu lama untuk membongkar tenda dan membereskan semua untuk kembali. Tak lupa pula kami membawa pulang sampah kami, karena gunung bukan tempat sampah. Setidaknya kami bertanggung jawab dengan sampah kami sendiri ketika kami tak mampu membersihkan semua sampah plastik di pos 9. 

Kami pun kembali pulang menuju desa Tompobulu, tempat kami memarkir motor dan selanjutnya kembali menuju Makassar. Sebelum tiba di Makassar, kami sempat singgah di salah satu warung dekat pertigaan jalan poros Pangkep untuk mengisi perut yang memang dari pagi belum terisi. Nasi goreng telur dadar lengkap dengan ayam cabik-cabiknya menu siang itu, namun entah kenapa saya jauh lebih menikmati makanan semalam walaupun dengan menu seadanya tapi itu sungguh nikmat. Selanjutnya kami pun kembali ke Makassar dengan cerita masing-masing.

Akhir kata, semoga masih ada kesempatan untuk kembali mendaki bersama karena di alam kita jauh lebih merasa dekat. Terima kasih untuk semuanya.

Let's Explore Indonesia
INDONESIANHOLIC

Sunday, 29 March 2015

Tips Backpacking ke Pantai Apparalang Bulukumba

Pantai Apparalang, Bulukumba
Pantai Apparalang merupakan salah satu pantai di Bulukumba yang akhir-akhir ini sedang hangat diberbagai media sosial baik itu facebook, twitter, dan instagram. Sosial media lah yang membuat Pantai Apparalang dikenal oleh para wisatawan. Pantai yang katanya mirip Raja Ampat atau lebih tepatnya Raja Ampat versi Bulukumba.
 
Bulukumba memang dikenal sebagai surganya destinasi wisata pantai, sebut saja Tanjung Bira dan Pantai Bara. Setelah saya datang ke Pantai Apparalang awal tahun 2015 kemarin, saya pun berkesimpulan kalau Bulukumba tidak hanya Tanjung Bira, ternyata masih banyak pantai yang lebih indah namun belum terexplore diantaranya Pantai Apparalang, Pantai Mandala Ria, Pantai Samboang, Pantai Kaluku dan Pantai Kasuso. 

Begitu banyak orang mempertanyakan tentang keberadaan lokasi Pantai Apparalang. Saya pun demikian,  sebelum kesana sempat bertanya  di grup facebook Makassar Backpacker tentang keberadaan tempat ini. Ternyata lokasinya masih satu jalur dengan Tanjung Biru tapi entah kenapa saya belum pernah melihat tempat ini. Saya sempat kesasar hingga tiga kali sebelum menemukannya. Cukuplah saya tersesat, makanya saya ingin berbagi informasi yang lebih detail tentang Pantai Apparalang.

Berikut informasinya :

Transportasi menuju Pantai Apparalang?
Transportasi ke Pantai Apparalang sama halnya transportasi ke Tanjung Bira, saya sudah pernah mengulasnya di Tips backpacking ke Tanjung Bira. Saran saya, jika mau ke Pantai Apparalang alangkah baiknya naik motor karena jalurnya agak curam dan berbatu. Ada banyak rental motor di Tanjung Bira, harganya bervariasi dari harga 50K - 70K. 

Lokasi Pantai Apparalang?
Pantai Apparalang berada di Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari, Kab. Bulukumba. Lokasinya masih satu jalur menuju Tanjung Bira. Lima kilomenter sebelum tiba di Tanjung Bira atau lebih tepatnya sebelum melewati jalan penurunan Lahongka, anda akan mendapatkan pertigaan jalan  (SMK 6 Perkapalan Bulukumba). Dari pertigaan itu, kemudian belok kiri menuju Desa Ara. Setelah itu saya akan jelaskan lagi lebih detail.

Jalur Menuju Pantai Apparalang?
Setelah belok kiri dari jalan poros menuju Tanjung Bira, selanjutnya anda akan melewati jalan depan sekolah SMK 6 Perkapalan. Sekitar empat kilometer dari pertigaan anda akan mendapatkan gerbang Pantai Apparalang di sebelah kanan. Jika anda masih bingung, saya akan jelaskan lebih detail lagi, yakinlah anda tidak akan tersesat.
Pertigaan Desa Ara dan Jalur Menuju Tanjung Bira
Gerbang Pantai Apparalang
Jalan terus sampai dapat penurunan.
Pertigaan ini , anda belok kiri.
 Beberapa ruas jalan masih dalam tahap pengerjaan
Setelah mengikuti petujuk seperti yang saya jelaskan anda akan medapatkan sebuah lahan parkir yang cukup luas dan beberapa gapura. Selanjutnya anda tinggal berjalan ke kiri menuju pantai Pantai Apparalang.

Penginapan di Pantai Apparalang?
Tidak ada fasilitas penginapan di Pantai Apparalang. Saran saya, lebih baik menginap di Tanjung Bira karena disana ada banyak pilihan penginapan. Menginap di tenda atau ngecamp, bisa juga menjadi pilihan di Pantai Aparalang tapi kontur tanahnya berbatu. Informasi Penginapan di Tanjung Bira,  baca disini
Lahan parkir bisa menjadi pilihan untuk mendirikan tenda
Warung Makan di Pantai Apparalang?
Tidak ada warung yang permanen di Pantai Apparalang, tapi ada beberapa warga sekitar yang berjualan cuma gak setiap hari, hanya memamfaatkan moment hari libur atau weekend. Anda bisa membawa sendiri atau membeli cemilan di Tanjung Bira, tapi ingat yah sampahnya jangan dibuang sembarang. Ini penting banget, jangan sampai Pantai Apparalang cuma dinikmati pantainya saja tanpa mempertimbangkan kebersihannya.

HTM Pantai Apparalang?
Sewaktu saya kesana, belum ada retribusi resmi alias gratis. Pantai Apparalang memang belum tersentuh oleh Dinas pariwisat Setempat. Tangga kayu menuju dermaga dibangun oleh Dinas Kelautan karena tak jauh dari pantai terdapat menara pandang untuk memantas aktifitas penangkapan ikan di laut. Beberapa masyarakat sekitar hanya memamfaatkan tarif parkir bagi para pengunjung yang datang berlibur di akhir pekan.

Bapak ini sempat bercerita banyak tentang Pantai Apparalang.
Apa yang Menarik di Pantai Apparalang?
Dari kejauhan anda akan disuguhkan landscape garis pantai yang begitu rapi. Pantai Apparalang merupakan sebuah gugusan tebing batu dengan ciri khas warna lautnya, ada juga yang menamakannya Tebing Apparalang. Selain itu ada beberapa bongkahan batu yang memisahkan diri dari induknya, sungguh perpaduan yang terlahir dari alam itu sendiri. Untuk menambah keindahannya, terdapat sebuah tangga dan dermaga kayu. Sulit rasanya mendeskripsikannya secara utuh. 

Bagi pecinta photography, pantai apparalang merupakan tempat yang tepat untuk membidik setiap moment dan frame. Setiap sudutnya punya keindahan tersendiri, tergantung cara anda membidiknya. Selain itu, bagi anda yang suka tantangan atau menguji adrenalin, melompat dari atas tebing adalah jawabannya.

Perpaduan warna lautnya akan membuat anda berdecak kagum
Sisi sebelah kanan Pantai Apparalang
Salam Cinta Indonesia
Let's Explore Indonesia

Friday, 27 March 2015

Pengumuman Pemenang Turnamen Foto Perjalanan Ronde 58

Alhamdulillah, ucapan rasa terima kasih kepada kawan-kawan blogger yang telah berpartisipasi dalam Turnamen Foto Perjalanan Ronde 58. Begitu banyak foto-foto terbaik yang masuk, sehingga membuat saya bingung memilih foto yang benar-benar terbaik diantara yang terbaik. Setiap foto pasti punya keindahan tersendiri tergantung dari perspektif orang melihatnya.

Melalui postingan ini saya akan mengumumkan foto sunrise terbaik yang berhasil memenangkan Turnamen Foto Perjalanan Ronde 58 dengan tema sunrise adalah....

Danan Wahyu Sumirat
@Dananwahyu
Foto ini memang terlihat sederhana namun dengan adanya orang membuat foto ini lebih hidup. Saya rasanya ingin berada di Kanawa saat itu juga menggantikan orang yang ada dalam foto ini. Cahaya mataharinya benar-benar bulat menerangi Kanawa pagi hari.


Selain itu saya juga memiliki dua foto terbaik yang membuat saya awalnya susah menentukan pemenang. Berikut fotonya:

1. Foto kiriman dari Agung Gidion R.
"Mesranya Prau di Kala Pagi"
Tak ada yang bisa pungkuri keindahan landscape foto ini. Saya suka banget, namun sayang gradasi warna sunrisenya kurang natural.  


2. Foto kiriman dari Dimas Angga
"Merdeka"  
Puncak gunung pagi hari selalu menawarkan cerita keindahan, bendera merah putih dengan background lauta awan membuat saya iri, kenapa? selama saya mendaki belum pernah melihat lautan awan seperti ini. 



Sekali lagi selamat kepada Danan Wahyu Sumirat dan silahkan melanjutkan Turnamen Foto Perjalanan Ronde berikutnya.

Salam Cinta Indonesia
Let's Explore Indonesia

Saturday, 14 March 2015

Turnamen Foto Perjalanan Ronde 58 : Sunrise

Alhamdulillah, ucapan syukur tak terhingga saya hanturkan kepada mba' Mila Sasmita yang telah memilih saya sebagai pemenang Turnamen Foto Perjalanan Ronde 57 bertema Langit Biru. Sebelumnya saya tak menyangka bisa menjadi pemenang diantara kiriman foto terbaik dari teman-teman blogger. Sebenarnya saya cukup lama melewatkan beberapa ronde sebelumnya, namun entah kenapa pada pada edisi kemarin saya ikut lagi meramaikan dan Alhamdulillah saya keluar sebagai pemenang. 

Moment ini pun rasanya seperti kado terindah bagi saya dalam menyambut ulang tahun di tanggal 15 Maret, sekali lagi terima kasih untuk semuanya.

Sebagai pemenang, saya berhak melaksanakan amanah dengan melanjutkan ronde berikutnya karena turnamen ini terus bergulir. Ternyata tidak mudah untuk menentukan tema, dimana sudah terlalu banyak tema yang sudah bergulir.

Menyaksikan Sunrise di Puncak Gunung Ungaran, Semarang
Setelah saya mengeluarkan seluruh kekuatan otak saya untuk mencari ide yang terbaik dari berbagai tempat yang saya jadikan sandaran dan akhirnya terpilihlah satu tema yang menurutkan punya alasan kuat kenapa saya memilih tema ini.

Bismillahirrahmanirrahim.

Tema Turnamen Foto Perjalanan Ronde 58 adalah:

SUNRISE
Tema Ronde 58 adalah "Sunrise" yang berarti matahari terbit. saya memilih tema ini dengan berbagai alasan, salah satunya sunrise itu adalah sebuah harapan. Yap, ketika lagi traveling ke Gunung Bromo, saya menaruh harapan besar agar cuaca bersahabat pagi itu. Begitu banyak pengunjung menunggu sunrise di penanjakan, sungguh pemandangan yang menakjubkan menyaksikan matahari keluar dari peraduaanya. Tak salah memang jika Bromo adalah spot terbaik untuk melihat golden sunrise.

Begitu banyak menunggumu di Penanjakan Bromo

Selain diartikan harapan, bagi saya sunrise itu sebuah semangat. Yap, saya semangat banget bangun pagi ketika lagi traveling, bagi saya sungguh sebuah penyesalan jika melewatkan moment matahari terbit. Menyaksikan sunrise itu tak perlu harus menapakkan kaki di sebuah puncak gunung, terombang ambing di lautan menuju sebuah pulau atau apalah itu. Sunrise dapat dinikmati dimana saja bahkan hanya semudah membuka jendela kamar sudah bisa merasakan hangatnya matahari pagi, asalkan posisi anda selalu menghadap ketimur karena dari arah situlah matahari terbit.
Hangatnya Matahari Pagi di Bukit Kusnodo, Bontang.
Suatu Pagi di Pantai Kilo Lima, Luwuk.
Selamat Pagi Indonesia dari Gili Trawangan.
Moment Sunrise di Batutumonga, Toraja Utara.

Sebelumnya, mari simak aturan mainnya sebagai berikut:

Apa sih Turnamen Foto Perjalanan Itu?

Turnamen Foto Perjalanan (TFP) adalah sebuah permainan berantai para blogger, khususnya (travel) blogger Indonesia, sebagai sarana berbagi foto perjalanan secara kolektif. Setiap ronde, tuan rumah akan menentukan sebuah tema, dan para peserta akan mengirimkan foto perjalanan sesuai dengan temanya. Foto-foto yang masuk akan dipajang di artikel ronde yang sedang berlangsung. Nantinya, tuan rumah akan memilih seorang pemenang. Hadiahnya? Menjadi tuan rumah turnamen ronde berikutnya. Dan roda turnamen pun berputar!


Aturan Main Turnamen Foto Perjalanan (TFP) Ronde ke-58:
  • Turnamen Foto Perjalanan (TFP) Ronde ke-58 ini berlangsung pada: 15 Maret 2015 – 23 Maret 2015 (batas waktu pukul 23.59 WIB)
  • Foto harus merupakan karya sendiri. Peserta TFP bebas meng-upload foto dimana saja, asalkan milik/akun sendiri (web, blog, Flickr, Picasa, Photobucket, dan sebagainya)
  • Submit foto pada kolom komentar artikel ini dengan format berikut:
    • Nama: -
    • Nama blog: -
    • Link blog: -
    • Akun Twitter: -
    • Judul foto: -
    • Keterangan foto (secukupnya): -
    • Link foto (maksimal ukuran 600 pixel): -
  • Ada kemungkinan foto yang kamu kirim akan di re-host oleh tuan rumah. Terutama kalau terlalu besar atau bermasalah.
  • Foto tidak diperkenankan dalam bentuk kolase.
  • Foto yang tidak patut tidak akan di-upload di sini (misal: menyinggung SARA, nyeleneh, atau menghina pihak lain)
  • Submisi lebih cepat lebih baik, sehingga fotomu bisa tampil seatas mungkin.
  • Pengumuman pemenang sekitar 2-3 hari setelah batas akhir turnamen ronde ini.
  • Foto-foto peserta akan segera  dipajang bersamaan di ujung artikel ini, berdasarkan urutan antrian pada kolom komentar di bawah ini.

FAQ About Turnamen Foto Perjalanan

Mengapa mengikuti Turnamen Foto Perjalanan?
  1. Ajang berbagi (sharing) foto. Bersama, para travel blogger Indonesia membuat album-album perjalanan yang indah yang tersebar dalam ronde-ronde turnamen ini.
  2. Untuk dinikmati para pencinta perjalanan lainnya.
  3. Kesempatan jadi pemenang. Pemenang tiap ronde menjadi tuan rumah ronde berikutnya. Plus, blog dan temamu (dengan link yang bersangkutan) akan tercantum dalam daftar turnamen yang dimuat di setiap ronde yang mendatang. Not a bad publication.

Siapa saja yang bisa ikutan?
  • (Travel) blogger. Tak terbatas pada travel blogger profesional, random blogger yang suka perjalanan juga boleh ikut.
  • Setiap blog hanya boleh mengirimkan 1 foto. Misal, DuaRansel yang terdiri dari Ryan dan Dina (2 orang) hanya boleh mengirim maksimal 1 foto.
  • Pemenang berkewajiban menyelenggarakan ronde berikutnya di (travel) blog pribadinya, dalam kurun 1 minggu. Dengan demikian, roda turnamen tetap berputar.
  • Panduan bagi tuan rumah baru akan diinformasikan pada pengumuman pemenang. Jika pemenang tidak sanggup menjadi tuan rumah baru, pemenang lain akan ditunjuk.

Nggak punya blog, tapi ingin ikutan?
  • Oke deh, tidak apa-apa. kirim sini fotomu. Tapi, partisipasimu hanya sebatas penyumbang foto saja. Kamu nggak bisa menang, karena kamu nggak bisa jadi tuan rumah ronde berikutnya.
  • Eh tapi, kenapa nggak bikin travel blog baru aja sekalian? WordPress, Tumblr, atau Blogspot. Gampang kok, pakainya.

Hak dan kewajiban tuan rumah:
  • Menyelenggarakan ronde Turnamen Foto Perjalanan (TFP) di blog-nya
  • Memilih tema
  • Melalui social media, mengajak para blogger lain untuk berpartisipasi
  • Meng-upload foto-foto yang masuk
  • Memilih pemenang (boleh dengan alasan apapun)
  • Menginformasikan pemenang baru apa yang perlu mereka lakukan (panduan akan disediakan)

Mengapa saya tidak diundang?
  • Memang tidak diperlukan undangan untuk mengikuti turnamen ini, langsung join saja.

Daftar Ronde Turnamen Foto Perjalanan:

  1. Laut – DuaRansel
  2. Kuliner – A Border that breaks!
  3. Potret – Wira Nurmansyah
  4. Senja – Giri Prasetyo
  5. Pasar – Dwi Putri Ratnasari
  6. Kota – Mainmakan
  7. Hello, Human! (Manusia) – WindyAriestanty
  8. Colour Up Your Life -Jalan2liburan
  9. Anak-Anak – Farli Sukanto
  10. Dia dan Binatang – Made TozanMimba
  11. Culture & Heritage – Noni Khairani
  12. Fotografer – Danan Wahyu Sumirat
  13. Malam – Noerazhka
  14. Transportasi – Titik
  15. Pasangan – Dansapar
  16. Pelarian/Escapism – Febry Fawzi
  17. Ocean Creatures – Danar Tri Atmojo
  18. Hutan – Regy Kurniawan
  19. Moment – Bem
  20. Festival/Tarian – YoesriantoTahir
  21. Jalanan – PergiDulu
  22. Matahari – Niken Andriani
  23. Burung – The Traveling Precils
  24. Sepeda – Mindoel
  25. Freedom – Pratiwi Hamdhana AM
  26. Skyfall – Muhammad Julindra
  27. Jembatan – Backpackology
  28. Tuhan – Efenerr
  29. Gunung – Elizabeth Murni
  30. Batas – Ayu Welirang
  31. Jejak – Daru Aji
  32. Sungai – Omnduut
  33. Rumah Ibadah – Sikiky
  34. Kampung – Monda
  35. Museum – Avant Garde
  36. Taman- Ari Murdiyanto
  37. Pencakar Langit – Dede Ruslan
  38. Terminal/Stasiun – Sy Azhari
  39. Hujan – Diah
  40. Danau – Messa
  41. Wastra – Indah
  42. Grey – Lies Hadi
  43. Gua – Uwien Budi
  44. Awan – Syifna
  45. Siluet – Yofangga
  46. Refleksi – Tiga di Bumi
  47. Jendela – Endah Kurnia Wirawati
  48. Chamber – Indah
  49. Barang Tua – Silviana
  50. Kemarau – Cheila
  51. Peaceful – Dee An
  52. Framing – Depz
  53. Let’s Jump! – Endah Kurnia Wirawati
  54. Kabut – Rinaldi Maulana
  55. Waterfalls – Rifqy Faiza Rahman
  56. Keindahan Alam Indonesia – Geo Funny
  57. Langit Biru – Saya (Lina W. Sasmita)
  58. Sunrise – Saya (Muhammad Akbar)
  59. Kamu selanjutnya....
Pendiri dan Koordinator Turnamen Foto Perjalanan:
Pertanyaan seputar penyelenggaraan dan lain sebagainya? Hubungi Dina.


Abaikan Foto ini
Bagaimana? Mudah dan menyenangkan bukan? Jadi, segera kirim foto bertema Sunrise kalian di kolom komentar di bawah ini, ya! Ayo, sama-sama kita berbagi keindahan negeri ini dengan ikutan TFP Ronde 58 mulai sekarang.

Yuk, ditunggu!

=========================================================================================
=============================
GALERI TURNAMEN FOTO PERJALANAN RONDE 58 : SUNRISE


1. Dede Ruslan
@catatanruslan / http://catatanruslan.blogspot.com/
"Menanti sunrise dari phuntuk setumbu"
 
Sunrise dari phuntuk setumbu 

2. Agung Gidion R.
@dionbernabeu / ranseltua.blogspot.com
"Mesranya Prau di Kala Pagi"

 Hari itu angin bersenandung kencang, rombongan kabut berjalan pelan. Sementara Sumbing dan Sindoro masih saja diam. Yang ku tahu belum pernah kurasa pagi semesra itu.

3. tsuza hasibuan
Catatan kecilku / www.warnawarnidiriku.blogspot.com
"pagi sehat" 

 walau hanya sekali seminggu, menikmati udara segar di pusat kesibukan Jakarta. olahraga bukan lagi soal keindahan dan bentuk tubuh, tapi soal bugar dan sehat. Ayo olahraga

4. Rifqy Faiza Rahman
@anandarifqy / papanpelangi.co
Sunrise Gunung Limo Pacitan

 Pagi-pagi saya berlari dari rumah nenek ke desa sebelah, hanya demi mengabadikan sunrise yang sederhana. Tampak Gunung Limo menyembul di kejauhan.

 5. Fardelyn Hacky
@fardelynhacky1 / http://www.fardelynhacky.com/
Menyambut Pagi

Pagi telah datang kembali... menambah satu hari lagi perjalanan hidup anak manusia.
Terbangun dari mimpi, menaklukkan hari, untuk bersiap memyambut mimpi baru.
Aku dan kau - kita - sudah sampai di mana?
Mimpi kita tadi malam, apakah mimpi yang sama dengan mimpi kemarin?

Sayang, mari menyambut pagi…
Lihat matahari di ujung sana
Malu-malu semburat jingga, sebelum datang garangnya.
Sayang, mari kita nikmati hangatnya pagi
Dengan dua cangkir hangat kopi

“The sun just touched the morning;
The morning, happy thing,
Supposed that he had come to dwell,
And life would be all spring.” ––Emily Dickinson

6. Raditya Jati
 http://denmasbrindhil.wordpress.com
"Pagi yang Sedikit Berawan"


 Foto itu diambil dari bukit batu sebelah timur dari pantai Klayar, Pacitan. Saat itu saya memang menyengaja mbolang ke sana sendirian, nyepeda. Karena sebelumnya pernah juga mau ke Klayar, waktu itu bareng seorang teman, tapi gagal sampai karena kemalaman dan keesokan harinya sudah harus pulang ke Jogja. Nah, saat sendirian itu saya asyik-asyikakan saja di pantai Klayar itu

7. Nurul Noe
@NurullNoe / www.nurulnoe.com 
"Mengeja Pagi"


Putik-putik bougenville menyembul dari balik mahkotanya, bersuka cita menyambut pagi di Bukit Kramatwatu Indah, Serang. Diam-diam, sekeping hati mulai mengeja sebaris kata. Hari baru, harapan baru, semangat baru.

8. Isna Saragih
djangki / avant garde / https://djangki.wordpress.com
"Mentari dan Embun Pagi"

Matahari hanya segaris tipis berwarna keemasan di ujung timur pulau Bali ketika pesawat kami hendak meninggalkan Pulau Dewata. Lalu perlahan sang surya memancarkan sinar agungnya, meluruhi butir-butir embun di balik jendela. Selamat pagi Bali, suatu saat aku 'kan kembali.

9. Danan Wahyu S
@Dananwahyu / www.dananwahyu.com
"Menanti Surya"

Kanawa – Tak ada yang tak indah di pulau ini. Melayangkan pandangan ke segala arah , indra penglihatan selalu dimanjakan pesona alam. Tapi fotografer tetap setia menanti surya di puncak bukit. Melengkapi sebuah ritual pagi.

10.  Dee An
@dieend18 / www.adventurose.com
"Bola Jingga di Langit Banyuwangi"

Tak perlu mencari tempat istimewa hanya untuk menikmati sebuah moment istimewa. Terkadang, moment istimewa itu justru hadir di tempat yang menurut kita sangat biasa. Seperti pagi itu, pada sebuah unplaning trip menuju Bali, dari dalam mobil yang melaju aku melihat matahari cantik, bulat sempurna, di langit timur Kota Banyuwangi.

11. Dimas Angga
@dmasangga / www.pedomellonz.blogspot.com
"Merdeka"

Foto ini diambil bertepatan dengan hari kemerdekaan 17 agustus di puncak gunung cikuray

12. Noerazhka
@noerazhka / www.noerazhka.com
"Sunrise, Perayaan Bagi Para Pecinta Pagi"

 Saya bukan manusia pagi.

Kalau disuruh memilih antara berburu sunrise atau bergelung di balik selimut, tanpa ragu, saya akan mengambil opsi kedua. Namun, Desember 2014 lalu, saya ‘terpaksa’ harus berkejaran dengan waktu, mendahului matahari sebelum ia tiba di cakrawala.

Drini, salah satu pantai di pesisir Selatan Gunung Kidul. Disanalah saya memaksa mata untuk terjaga, merayakan sunrise bersama para pecinta pagi. Langit gelap, lalu perlahan surai berwarna jingga memecahnya. Biru, ungu, merah pun bersusulan setelahnya. Memeriahkan pagi yang syahdu.

Para pecinta pagi bersorak kegirangan. Sementara saya menguap, menahan kantuk mati-matian.

13. Syifna
@inisyifna / www.gatedelhi.wordpress.com
"Sinar Harapan"

 Kegelapan hutan di malam hari hilang seketika saat secercah sinar mentari datang menghampiri, hidup takkan pernah suram saat masih ada secercah harapan. Life is Beautifull :)

14. Vizon
@hardivizon / www.hardivizon.com
"Menjemput Rezeki"

Saat mentari menyembulkan cahaya hangatnya di pagi hari, saatnya bagi umat manusia untuk bertebaran di muka bumi, menjemput rezeki yang telah Allah sediakan untuk mereka. (Foto ini kuambil, Minggu pagi, 22 Maret 2015, pukul 06.00 wib, di Jl. Ring Road Selatan, dekat pasar buah dan sayur Giwangan-Yogyakarta, dalam perjalanan menuju bandara Adi Sutjipto).

15. Aliko Sunawang
@sunawang / sunawang.net
"Menanti Matahari"

Pagi itu para pendaki sedang menunggu matahari terbit di padang sabana satu gunung Merbabu. Semburat jingga sudah mulai terlihat, para pendaki mulai keluar tenda untuk menanti sang surya pagi menampakkan dirinya.