Toraja part 5 : Lokomata, Bori', Pasar Bolu, Singki' dan Rantepao

Thursday, October 31, 2013 muhammad akbar 2 Comments

Sabtu 24 Agustus 2014
Hari ini adalah hari kedua atau hari terakhir petualangan saya di Tana Toraja. Mencoba melirik remasan kertas yang berisi itinerary ternyata masih ada beberapa spot wisata yang belum terkunjungi. Rasanya belum ingin meninggalkan Batutumonga, saya sudah jatuh cinta dengan tempat ini sejak saya terpukau oleh indahnya sunrise dan lautan awannya.

Masih sibuk mengemas barang-barang sambil melihat itinerary dimana hari ini saya harus mengunujungi Lokomata, Bori', Singki' dan Kete' Kesu. Pertanyaan yang mucul dalam pikiran saya, apakah saya mampu mengunjungi semua tempat ini dalam sehari. Setelah check out dari penginapan tujuan pertama yaitu ke Lokomata, dimana jalurnya menuju arah keatas sekitar 10 km. Perjalanan pun kembali dimulai.

LOKOMATA
Perjalanan menuju Lokomata anda harus jeli melihat tanda arah. Jalanan yang sempit dan berbelok-belok itu yang saya rasakan menuju tempat ini, bahkan saya sempat ragu akan keberadaannya. Pemandangan area persawahan Toraja yang identik dengan bertingkat atau lebih dikenal dengan terasering menemani perjalanan sepanjang jalan. Saya juga melihat beberapa pipa air menyusuri setiap lika liku jalan. Perjalanan pun terhenti ketika saya melewati gerbang dimana bertuliskan Lokomata. Kuarahkan pandangan saya melihat sekeliling area ini. Pandangan saya terhenti di sebuah batu bulat besar. Lokomata yang katanya seperti kapal angkasa. Pikirku, inilah Lokomata.

Sebuah batu besar yang dilubangi, dimana setiap lubang itu terdapat jenasah didalamnya. Terlihat juga ada beberapa miniatur tongkonan tepat berada disampingnya. Berjalan menyusuri setiap sudutnya dan melihat beberapa lubang. Menurut pemahaman yang saya ketahui bahwa semakin tinggi suatu makam maka derajatnya kebagsawanan tinggi pula. Untuk meletakkan jenasah di atas lubang yang tinggi digunakan tangga bambu untuk menaikkannya.

Setelah saya merasa cukup mengerti dan melihat walaupun pada saat itu saya tak melihat pengunjung lain dan hanya ada kami berdua, tapi setidaknya saya cukup mengerti dengan penjelasan Tandik yang setia menemani saya dari kemarin.

Lokomata, Makam batu cada besar "mirip kapal angkasa"
BORI' dan PASAR BOLU
Perjalanan dari Lokomata kembali melewati jalan yang sebelumnya dimana perjalanan saya akan melewati Batutumonga. Sesuai itinerary, selanjutkan akan menuju Bori'. Perjalanan pulang terasa cepat sekali karena memang sudah meleawati jalan turun dari Batutumonga. Jalanan menurun dan sempit harus lebih hati-hati terutama dalam pengereman. Sebelum sampai di jalan beraspal, hujan gerimis pun turun walaupun tidak deras dan perjalanan pun tetap di lanjutkan.


Tak terasa selama perjalanan hingga harus melewati jalan masuk menuju Bori'. Saya pun sempat menyerah kalau memang sudah terlewati tak usahlah kembali. Bertanya disalah satu warga yang duduk di pinggir jalan, menurutnya jalan masuk bori' itu tidak terlalu jauh dari sini. Setelah berbincang dengan Tandik, akhirnya saya memutuskan untuk kembali lagian jalan masuk tidak terlalu jauh juga.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, akhirnya kami tiba di kawasan wisata Bori'. Ternyata memang sangat dekat. sebelum masuk kami terlebih dahulu membeli karcis seharga Rp. 10.000.-/ 2 orang. Terdengar bunyi palu dibalik batu, ternyata ada 3 orang warga yang lagi membuat lubang sesuai dengan pesanan. Untuk membuat lubang dari batu ternyata membutuhkan waktu 1 bulan.

Kawasan wisata Bori' ini berbeda dengan makam yang lain, dimana disini terdapat batu menhir yang memanjang ke atas dan ditancapkan ke tanah. Saya berjalan menyusuri sekeliling tempat ini karena memang tidak terlalu luas dan mengambil beberapa gambar untuk dijadikan sebagai kenangan.

Batu menhir jadi ciri khas kawasan wisata Bori'
Indonesia kaya dengan keberagaman dan kerarifan lokal
Setelah mengunjungi Bori kami akan kembali ke Rantepao, tiba-tiba di tengah perjalanan saya melihat sebuah plang penunjuk bertuliskan Pasar Bolu. Kenapa tidak singgah sebentar mumpung lagi lewat. Sebenarnya hari itu bukan hari pasar jadi pasar bolu tidak ramai. Melihat beberapa kerbau didalam pasar yang diikat ditali. Mencoba mendekati seorang bapak yang sedang asyik duduk. Saya mencoba membuka pembicaraan hingga terjadi percakapan yang panjang dan membuat saya heran dan sedikit tidak percaya.

" Jangan pernah mengaku orang kaya jika tak mampu membuat pesta untuk orang tuamu " cetusnya secara lantang dengan logat orang Toraja.

" Pesta semacam apa pak? " balasku dengan rasa penasaran

" 1 bulan yang lalu, mertua saya dipestaskan dan kami memotong 110 ekor kerbau dan beberapa babi " sahutnya dengan berani.

" Intinya orang toraja itu cari uang untuk mati " masih menyambung penjelasannya.

Sungguh luar biasa, begitu besar pengorbanan orang toraja tentang sebuah pesta kematian. Kearifan lokal yang sampai saat ini masih dipegang teguh dan tetap dipertahankan.


Tedong Bonga yang harganya ratusan juta
SINGKI' dan KOTA RANTEPAO
Setelah dari Pasar Bolu, perjalanan dilanjutkan menuju Rantepao sesuai dengan rute sebelumnya. Hari sudah siang matahari sudah berada diatas kepala. Sebenarnnya Singki' tidak masuk dalam destinasi saya tapi karena hasutan tandik yang menyarankan saya harus ke Singki'. Kami terlebih dahulu membeli es buah di salah satu warung di kota Rantepao untuk bekal menuju Singki'.

Singki yang lataknya sangat dekat dari Rantepao. Tinggal melihat ke atas dan arahkan pandangan kalian ke arah barat maka anda akan melihat menara salib di atas bukit, itulah singki'. Sesampai di parkiran, tantangan naik tangga sudah menunggu. Ini bukan hal yang mudah menurutku, menaiki tangga demi tangga akhirnya kami tiba di puncak menara. Segerombolan anak sekolahan yang juga sedang menikmati juga angin sepoi-sepoi dari puncak menara tapi ada sesuatu hal yang mereka lakukan yang membuat saya geleng-gelang kepala. Sepasang muda-mudi yang sedang asyik berduan dibalik tembok. Saya melihat ada 3 pasangan yang sedang asyik bercengkrama dan melakukan sesuatu hal yang tak perlu saya tulis dalam tulisan ini. Bukan hanya itu beberapa anak laki-laki, jika saya lihat dari pakaian yang digunakan mereka ini anak SMP. Mereka melakukan hal yang berbeda dimana sedang asyik mengisap rokok dan bangganya mengeluarkan asap rokok dari mulutnya.

Ya sudah, biarkan mereka melakukan hal yang mereka sukai. Saya kesini hanya untuk menikmati pemandangan dari puncak menara. Atap-atap rumah yang terlihat sangat rapi dan pegunungan yang mengelilinginya. Saya sempat menunjuk Batutumonga yang mana tadi pagi saya berdiri disana sambil memandangi indahnya sunrise.

Saya membayangkan saya ditempat ini dikala senja sambil memandangi matahari terbenam dan menikmati indahnya lampu kota rantepao. Singki' dibangun sebagai simbol kota Rantepao seperti di Rio de Janeiro Brazil.

Pemandangan dari menara Singki'
Adzan terdengar dari menara ini, itu menandaka sudah waktunya sholat dzuhur. Rantepao memang mayoritas beragama nasrani tapi ada sebuah mesjid di kota Rantepao. Saya memutuskan untuk turun karena saya juga sudah merasa puas berada ditempat ini. Perjalanan turun juga tak sesusah dan seberat waktu naik tadi.

Kembali ke kawasan oleh-oleh Rantepao, Tandik memilih turun di sebuah toko di pinggir jalan dan menunjukkan arah menuju mesjid. Setelah cukup mengerti saya mengikuti instruksinya dan akhirnya menemukan juga mesjid. Bangunan mesjid lantai 2 dimana bagian depannya terdapat 2 buah bangunan tongkonan yang menjadi ciri khas mesjid ini.

Setelah sholat saya kembali menuju kawasan pusat oleh - oleh. Ada satu benda yang saya ingin miliki dan membeli langsung ditempat asalnya, sarung toraja. Sarung Toraja berbeda dengan sarung pada umumnya, dimana panjangnya sekitar 2 meter dan berwarna hitam harganya berkisar Rp. 100.000,-. Sebenarnya ada juga motif batik tapi karena saya menginkan yang hitam makanya pilihan jatuh ke sarung toraja hitam.

Kota Rantepao, Toraja Utara

mengenalkan Indonesia dengan apa yang kita mampu 
tak ada kata menyerah untuk mencintai Indonesia
INDONESIANHOLIC

2 comments:

  1. Keadaan kita waktu ke Toraja Utara seperti nya mirip-mirip nih mulai pergi sebagai Solo Traveller, naik motor, rute-rute yang di tempuh, asli mirip banget :))

    Tapi keren juga si masbro bisa explore banyak tempat di Toraja secara keseluruhan, saluteee....

    ReplyDelete
  2. Iya, sebelum saya berangkat emang saya baca blognya bang.
    Salm kenal bang frengky

    ReplyDelete

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar