Semarang Trip (part 2) : Catatan Pendakian 10 November Gunung Ungaran

Wednesday, January 15, 2014 muhammad akbar 32 Comments

Menikmati senja di Simpang Lima Semarang sambil menikmati semangkok soto semarang, salah satu kuliner kota semarang yang membuat saya sangat lahap. Sore itu, saya menunggu kabar dari sept yang akan mengajak saya ke Gunung Ungaran, seorang yang saya kenal dari group FB Backpacker Semarang. Dia bersama temannya akan muncak di Gunung Ungaran. Gunung Ungaran sendiri memiliki ketinggian 2050 mdpl, terletak di kawasan wisata sidomukti. Awal ke Semarang niat awalnya saya hanya ingin mengitari semarang di malam hari malah berubah haluan naik gunung dan memilih ikut dengan mereka. 

Sept menjemput saya di Taman KB, tak jauh dari kawasan Simpang Lima. Kemudian kami menuju Indomaret untuk membeli cemilan dan minuman untuk bekal, selanjutnya menuju ke STEMBA (STM Pembangunan) Semarang. Disana sudah menunggu beberapa orang yang akan ikut juga bersama kami muncak, ada Septian, Rizky, Dedy, Fitry dan Sept. Sebelum berangkat kami sholat isya di mushollah sekolah. Tepat pukul 20.00 kami berangkat bersama meninggalkan semarang menuju Sidomukti dengan mengendarai motor. 

Perjalanan menuju Sidomukti melewati jalan poros Semarang - Jogja kemudian belok kanan ke arah kawasan wisata Sidomukti. Cuaca dingin Sidomukti mulai terasa dan gemerlap lampu kota semarang sangat indah dan menakjubkan. Saya tak hentinya memperhatikan kelap kelip kota semarang sambil mengendarai motor (jangan ditiru). Kawasan wisata sidomukti juga merupakan tempat favorit para muda-mudi ababil  "cabe cabean" yang berduaan di pinggir jalan. Saya sedikit iseng mengganggu mereka dengan memainkan lampu motor, seketika juga mereka terlihat panik dan berhenti dari aktivitas yang membuat mereka merasa dunia ini sudah milik mereka berdua.(maaf yah, cuma iseng)  

Tak terasa kami sudah berada di gerbang Umbul Sidomukti, kawasan wisata outbond yang sudah sangat terkenal. Sebelum masuk kami harus bayar iuran masuk 3000,-/ motor. Berhubung tujuan kami di pos mawar, maka kami tetap melanjutkan perjalanan. Butuh waktu sekitar 15 menit dari pintu masuk ke pos mawar, pos terakhir atau pos pelaporan sebelum muncak. Kami tiba sekitar pukul 21.30, ternyata malam ini sudah beberapa motor sudah terparkir dan ada banyak orang yang akan muncak malam ini. Saya baru sadar ternyata besok adalah 10 November 2013, makanya banyak orang naik ke Gunung Ungaran untuk merayakan Hari Pahlawan di puncak.

Sekitar pukul 22.00 kami meninggalkan pos mawar. Sebelum berangkat terlebih dahulu kami berdoa bersama agar perjalanan malam ini kami semua diberi kesehatan dan keselamatan, Rezky yang memimpin doa malam itu, seorang yang saya kenal sangat humoris dengan segala kelucuannya. Inilah perjalanan muncak terekstrim yang pernah saya jalani, dimana kami muncak tanpa ada yang bawa tenda, matras, kompor dan nesting, betul - betul perjalanan yang luar biasa. Kami memang niatnya hanya pulang pergi (PP) jadi tak perlu membawa peralatan lengkap, kami hanya membawa perlatan pribadi masing-masing. Ada yang lebih ektrim lagi, diantara kami berenam ternyata belum ada yang pernah naik ke Gunung Ungaran bahkan Dedy dan Fitry ini adalah awal dia mengenal naik gunung. Entah kenapa saya percaya saja dengan kelompok mereka, mungkin karena Rizky, Septian dan Sept sudah pernah ke Gunung Merbabu dan Merapi. Tak perlu khawatir karena jalur Gunung Ungaran sangat jelas dengan tanda - tanda yang sudah dipasang permanent. Ada banyak tanda yang mengarahkan perjalanan kami.

Kami berjalan beriringan sambil bercerita satu sama lainnya dan saya juga mencoba mengenal mereka satu sama lainnya. Sepanjang perjalanan kami diiringi oleh musik dari handphone yang dibawa rizky membuat kami menikmati setiap langkah demi langkah sehingga perjalanan kami tak terasa. Terkadang kami harus saling mengabari jika sudah mulai berjalan berjauhan. Kami juga tak sungkan untuk istirahat jika salah satu kami ada yang lelah. Terkadang banyak pendaki yang terlalu memaksakan berjalan tanpa melihat kondisi timnya atau dirinya sendiri, itulah mengapa kita tak harus malu untuk bilang capek. Bagi saya pribadi, jalur Gunung Ungaran sangat bersahabat untuk para pendaki pemula tapi saya tidak pernah sama sekali meremehkan karena setiap gunung punya cerita dan tantangan sendiri.

Tak terasa kami sudah tiba di desa Promasan, kami istirahat agak lama bahkan saya sempat tertidur sejenak. Berdasarkan lembaran peta yang diberikan di pos mawar, ini masih 1/4 perjalanan. Kami melanjutkan kembali perjalanan menuju pos bukaan, pos yang berada dikawasan kebun teh. Kami sepakat untuk istirahat di pos bukaan untuk pemulihan tenaga sebelum zummit attack. Perjalanan disini sedikit lebih mudah karena kami hanya mengitari jalan desa.

Sebenarnya selain pos mawar kita juga bisa juga memilih jalur Promasan untuk menuju Gunung Ungaran. Terlihat beberapa tenda di pinggiran kebun teh, saya mengindikasikan bahwa inilah pos bukaan sesuai dengan petunjuk dari peta. Berhubung kami tak bawa tenda, maka untuk malam ini kita hanya istirahat di pinggiran kebun teh dan mendekati api unggun yang telah dinyalakan salah seorang pendaki. 

Sekitar pukul 03.00, sept membangunkan saya dari tidur saya yang lelap walaupun hanya tidur beralaskan tanah dan beratapkan langit. Saya memang tergolong orang yang mudah tidur. Sudah waktunya zummit attack, saya mengumpulkan semangat dan tenaga untuk bisa melihat matahari 10 November di puncak Gunung Ungaran. Saya sangat bersemangat karena dengan semangat kita bisa melupakan rasa capek dan mengurangi rasa lelah. Banyak pendaki yang gagal sampai di puncak karena tidak punya semangat. Perjalanan dimulai dengan jalanan yang masih landai mengitari kebun teh, namun selang beberapa menit tiba-tiba hujan pun turun. Saya masih berjalan kedepan dan menghiraukan hujan karena menurut saya ini hanya hujan sementara tapi tenyata Dedy ragu untuk melanjutkan perjalanan, raut muka Fitry pun ragu untuk lanjut. Rizky dan Septian mencoba untuk memahami mereka tapi entah kenapa saya sedikit egois dan mencoba untuk meyakinkan mereka bahwa ini hanya hujan sementara dan itu sering terjadi area ketinggian seperti ini, Sept mencoba pula meyakinkan mereka dan tanpa ada rasa keraguan dari raut mukanya untuk tetap lanjut. Akhirnya mereka nurut juga untuk lanjutkan perjalanan. Mereka mengeluarkan mantel dari tas mereka masing - masing dan saya hanya bermodalkan jaket. Bagi saya ini tidak jadi masalah asal kami tetap melanjutkan pendakian.

Jalur menajak dan licin menjadi tantangan sendiri bagi kami. Halang rintang kayu yang membuat kami harus merangkak untuk melewatinya. Kami tetap mencoba untuk tidak berjalan berjauhan karena kabut sudah mulai turun juga. Saya teringat perjalananku ke Gunung Bawakaraeng 3 bulan lalu yang tiba di puncak dalam kondisi badai dan berkabut, apakah kali ini saya akan merasakan hal yang sama. Saya tak menghiraukan itu, puncak adalah tujuan tapi langkah menuju puncak adalah segalanya, itulah pemikiran saya saat itu. Berjalanlah karena rahasia tuhan kita tidak pernah tahu. Kami tetap berjalan menembus kabut dan melawan waktu yang sedikit lagi matahari akan terbit. Saya sudah tak berharap banyak untuk tiba di puncak sebelum matahari terbit, tapi tuhan berkata lain kami tiba di pra puncak dengan penuh harapan. Awan hitam yang menutupi sang mentari kini mulai bergeser membiarkan cahaya matahari menyapa kami dengan kehangatannya. Sungguh terharu bisa menyaksikan matahari pagi ini, kami bersuka cita menyambutnya. Wajah lelah diantara kami terbayarkan juga.

Matahari Pagi 10 November 2013
Menyapa Keindahan Indonesia
Kami bersuka cita dengan pencapaian kami dan mengapresiasi segala usaha dan kerja keras kami hingga bisa berada di titik ini. Kami sempatkan beribadah kepada sang khalik dengan menunaikan sholat subuh berjamaah. Selanjutnya kami beristirahat sejenak sambil menikmati logistik yang kami bawa, kami berbagi dengan lainnya. Cerita perjalanan dari tadi malam masih terbersit di pikiran kami masing-masing.

Kami tersadar bahwa kami masih berada di pra puncak, itu artinya kami harus lanjutkan perjalanan lagi. Para pendaki  yang lain mulai berdatangan dan mendahului kami. Setelah kami merasa cukup lama istirahat kami melanjutkan perjalanan menuju puncak. Puncak Gunung Ungaran sudah terlihat, semangat kami semakin bertambah pula. Jalur kali agak menanjak lagi tapi lebih mudah karena matahari sudah menerangi langkah kami.


Jalur Menuju Puncak
Akhirnya kami tiba di puncak Gunung Ungaran yang mana memiliki ketinggian 2050 mdpl. Beberapa pendaki sudah memenuhi puncak. Puncaknya sendiri memiliki tanah yang landai dan terdapat tugu yang di bangun oleh militer setempat dan terdapat pula sebuah tiang berdiri kokoh mengenggam bendera merah putih.

Inilah akhir dari perjalanan dengan menapaki jejak - jejak sejarah para pahlwan yang telah mendahului, dengan mengorbankan jiwa raganya demi merah putih. Setelah istirahat sejenak kami yang sudah tergabung dari beberapa kelompok pendaki  dan akan melakukan upacara bendera hari pahlawan dengan dipimpin oleh seorang pemuda yang kami percayakan. Ada ratusan orang memberi hormat dan melantunkan Indonesia raya. saya terharu, bergetar dan merinding mendegar dentuman suara teman-teman, ini upacara terkhitmat yang pernah saya ikuti walaupun tanpa susunan konsep tapi kami sangat merasakan aura nasionalime upacara kali ini. Setelah Indonesia raya, dilanjutkan lagu padamu negeri, dan ditutup lagu syukur. Saya merasakan betul arti sebuah perjuangan walaupun masa kami tidak melawan penjajah tapi kami melawan bangsa kami sendiri. Semoga kami dapat mengambil pesan dari pendakian ini agar jiwa nasionalisme semakin membara dan tak akan lekang oleh waktu dan zaman.

Upacara Hari Pahlawan 10 November
Hormatku untuk Pejuang Indonesia
Jempol untuk Indonesia dengan background Gunung Merbabu
Setelah tujuan kami tercapai kami pun turun kembali menuju pos mawar. Perjalanan turun lebih cepat tapi tak semudah yang dibayangkan. Saya harus menahan kaki agar tak tergelincir turun. Untuk sampai di pos mawar, perjalanan sekitar 3 jam itupun sudah jalan sedikit lambat karena kami berlama - lama menikmati udara pagi di kebun teh promasan .

Sebelum menutup catatan perjalan saya, tak lupa saya ucapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas kesehatan dan keselamatan kepada kami selama pendakian. Terima kasih pula untuk teman muncak saya, kalian semua luar biasa. Semoga bisa mencapai puncak yang lain di lain kesempatan.

Best Travelmate Gunung Ungaran 2050 mdpl
Lets travel to experience the beauty of Indonesia
@indonesianholic
www.indonesianholic.com

32 comments:

  1. Viewnya keren, jadi makin cinta Indonesia :))
    Owh ada yg namanya taman KB?


    http://travellingaddict.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Indonesia memang Keren
      Iya, Taman KB ada di Semarang tak jauh dari simpang lima/

      Delete
  2. Eh gw baru tau lho kalo ungaran itu nama gunung hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, itu nama gunung jalurnya sangat bersahabat juga.

      Delete
  3. ungaran memang keren ya mas..hari ini saya baca 2 tulisan ttg ungaran :D ,keren!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ungaran memang keren.
      view malam hari kita bisa melihat gemerlap lampu kota semarang
      view di siang hari lebih indah lagi.

      Delete
    2. Keren, rencana mendaki kemana lagi nih?

      Delete
    3. Belum ada rencana,
      Renggo orang mana?

      Delete
    4. Saya mah Makassar yang merantau ke tanah jawa, tepatnya di Blora Jateng.

      Delete
  4. Wow! sunrisenyaaaa..... cakep!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks,
      Orangnya juga cakep kok. hehehe

      Delete
    2. hahaha.. aku percayaaaaaa! :D

      Delete
    3. Thanks sudah percaya,
      hahahhaha

      Delete
  5. Wuiihh..
    Fabiayyialaairabbikumaa tukafdzibaan

    SUbhanallah bisa ktmu mas akbar..maaf kalo merrpotkan mas sewaktu menemani muncak heehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, saya juga ucap terima kasih sudah mengajak saya muncak.
      kapan-kapan lagi yah

      Delete
  6. Mas Akbar, apa Kareba? Two Thumbs up buat tulisannya,keren
    Kapan Mau Ngebolang lagi,,Paccioka nah,. he.he..
    Masih Training atau Dah kerja di Blora sana kah??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah kareba madeceng mua
      Terima kasih, ini hanya tulisan biasa masih dalam proses belajar.

      Iye', sekarang di Cepu lagi pendidikan.
      Ok, nanti saya kabariki kalau ada trip

      Delete
    2. Oh pendiidikan di Pusdiklat Cepu ya?
      bulan september kemarin saya ke daerah ungaran sini,tapi ndak sampai naik ke gunung ,cuma ke pemandian alam Umbul Sidomukti,berhubung wktu liburan singkat,,Ternyata pemandangan di puncaknya lebih bagus ya,.kapan kapan lah klo ada waktu kesana lagi
      Rencana next trip mau kemana nih bro?

      Delete
    3. Iya, Pusdiklat Cepu.
      Umbul Sidomukti dan Gunung Ungaran masih dalam satu kawasan.
      Naik ke Puncak Ungaran juga jalurnya sangat bersahabat,

      Rencana trip?
      pengennya ke Dieng,Baluran dan Pantai sekitaran Bayuwangi.

      Delete
  7. wahhhh baru nyadar kalau Ungaran itu Gunung..saya kira hanya sebuah kabupaten aj.dulu saya pernah bermalam di Ungaran. suasananya bener-bener dingin..ihir,,,pengin kesana lagi menikmati Dinginnya Ungaran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, itu nama gunung ketinggiannya 2050 mdpl.
      Jika tak mau ke puncak, ada juga lokasi camp yang pemandangannya kalau malam hari keren banget.

      Delete
  8. permisi gan inshaallah, saya dan teman2 29 januari ini mau muncak ungaran, tp bener2 gatau jalan ke umbul sidomukti :)
    kalo dari solo, ancer2 kasarnya gmn ya gan?? masuk gerbang bandungan itu nggak?
    terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo soal itu saya kurang terlalu tau, tapi gunung ungaran satu lokasi dengan umbul sidomukti.

      Delete
  9. 2050 Mdpl ya... hampir sama dengan gunung-gunung di walayah indonesia timur... sunrisenya bagus tapi banyak juga yang naik...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak yang muncak karena dalam rangka hari pahlawan.
      Jalurnya juga bersahabat jadi sangat digemari para pendaki pemula

      Delete
  10. Keren...
    Kepengen k sana tapi Masih SMK dan gk ada temen dari SMK karena gk ada ekstrakulikuler Pecinta Alam.

    ReplyDelete

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar