Jakarta, Aku Datang Kembali

Wednesday, June 10, 2015 muhammad akbar 18 Comments

Hari itu hari sabtu, 18 April 2015. Perjalanan panjang melintasi lautan menuju pulau Jawa dari Pulau Sulawesi. Terbang bersama maskapai plat merah Garuda Indonesia dari Makassar ke Ibukota Jakarta dari kota Makassar. Hampir dua tahun setelah saya tinggalkan, kini saya datang kembali menengok kabar ibukota. Pak Jokowi sudah menjadi presiden dan Pak Ahok sudah menjadi Gubernur. Sudah banyak mengalami perubahan, namun yang masih berbekas bagaimana suka dan dukanya tinggal di Jakarta. Banyak pelajaran yang saya dapatkan terutama dalam hal tranportasi umum, bagaimana seruhnya berdesak-desakan demi sebuah tempat duduk di Busway Transjakarta, bagaimana serunya naik kopaja atau metromini ketika kebut-kebutan, bagaimana serunya naik bajaj ketika melewati lorong-lorong. Diantara semua keseruan itu, hal yang paling tak terlupakan adalah kehilangan handphone blackberry di atas bus Pulogadung. Rasanya pengen murka tapi apa daya, saya tidak tahu harus mengaduh dengan siapa.

Kedatangan saya ke Jakarta kali ini demi sebuah tugas dan tanggung jawab dari tempat saya bekerja. Ini bukan cerita tentang kota Jakarta, tapi ini awal cerita yang membuat saya senang bisa kembali ke Pulau Jawa. Setelah saya mendarat di Bandara paling padat se-Indonesia, Bandara Internasional Soekarno Hatta. Lalu perjalanan kemudian dilanjutkan menuju sebuah kota, dimana kota ini merupakan tempat pelarian paling dekat orang Jakarta ketika pening dengan hiruk pikuk perkotaan, kawasan Puncak Bogor. Iya, saya dalam perjalanan menuju Puncak Pass Bogor, tempat tinggal saya dalam beberapa bulan kedepan. 
Terbang bersama Garuda
Jakarta dari ketinggian
Perjalanan menuju puncak terbilang mulus dan lancar ketika melewati jalan tol, tapi semuanya berubah dengan seketika ketika keluar dari tol. Mobil berjejer rapi di depan sehingga bus yang saya tumpangi harus terhenti. Jalan poros puncak lagi macet-macetnya karena pada saat itu lagi hari libur. Namun tidak perlu menunggu lama, sebuah mobil patroli milik polisi muncul dengan tiba-tiba dan berhenti tepat berada di depan bus, ibarat pahlawan yang menyelamatkan kami dari kemacetan. Akhirnya kami terbebas dari macet dan bisa dengan leluasa melewati hadangan mobil-mobil. Saya merasa ini eksklusif banget, karena mendapatkan pengawalan khusus. Informasi yang saya dapatkan dari asisten sopir bahwa hal ini sudah biasa dilakukan oleh polisi, ini merupakan fasilitas yang diberikan bagi yang mau membayar dengan harga yang saya tidak ketahui jumlahnya jika tidak mau terhalang macet.

Suasana pegunungan mulai terasa, dari balik kaca jendela terlihat pegunungan yang hijau disertai kabut tipis. Deretan rumah makan dan villa yang tak terhitung jumlahnya. Puncak Bogor ini merupakan kota seribu villa. Tidak salah jika kawasan puncak merupakan tempat liburan terbaik ketika weekend. 

***
Lima jam perjalanan akhirnya terhenti juga di sebuah hotel daerah Lembah Hijau. Nama hotelnya "Lembah Hijau Mountain Resort Hotel" suasananya sangat sejuk, banyak taman bunga dan  pohon pinus mengelilingi tempat ini. Lokasinya yang berada di lembah membuat saya setiap hari bisa melihat Gunung Gede dan Gunung Pangarango. Hotelnya berbukit-bukit tidak seperti hotel pada umumnya, kamarnya ada pilihan cottage dan deluxe nya juga. Terdapat banyak fasilitas olahraga mulai dari lapangan tennis, lapangan futsal, kolam renang, driving range golf, dan recreation hall ( fitness, sauna, karaoke, bilyard) Sungguh tempat terbaik di antara tempat yang pernah saya tinggali. Setelah check-in di resepsionist, saya mendapatkan kamar deluxe 451 yang berada di perbukitan.

Lembah Hijau dari Bukit Golf
Deluxe Room Twin Bed
Tempat menikmati secangkir kopi sambil memandangi pegunungan
Tinggal di kawasan puncak hingga bulan Desember. Tentunya saya punya banyak waktu dan beberapa destinasi wisata daerah puncak bisa saya kunjungi. Ketika Hari libur tiba, saya juga bisa mamfaatkan jalan-jalan ke Jakarta atau ke Bandung, namun kendalanya cuma satu, Jalanan di puncak selalu macet ketika weekend, tapi itu bukan penghalang untuk tidak bisa kemana-mana. Temukan cerita saya selanjutnya.

18 comments:

  1. kesan hotelnya seperrti di rumah sendiri :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kamarnya di desain terasa rumah sendiri karena untuk jangka panjang.

      Delete
  2. Replies
    1. Jakarta selalu ngangenin mba'
      ngangenin dengan segala kenangannya.

      Delete
  3. Selamat datang di Jakartaaa ;) eh skrg lg mudik ke Makassar ding malahan yak. Hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mudik ke Makassar selama 5 hari.
      Abis itu balik lagi ke Bogor.

      Delete
  4. wohooo kerennya pemandangan di luar gunung gede panrangno :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keren banget broh.
      Ayo mendaki bareng ke Gunung Gede.

      Delete
  5. cie cie ke Jakarta cie.. pake Garuda Cie..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, cie...cie..
      maklum dibayarin kantor. hahhaha

      Delete
  6. selamat datang di kota jakarta mas :D

    ReplyDelete
  7. uhuk, twin bed. uhuk
    hahahahaha :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Batuk yah? * sodorin komix*
      twin bed tapi cuma tidur sendiri.

      Delete
  8. iya bro jakarta emang gila soal transportasinya
    soalnya gue pernah terjebak org yg banyak banget di busway waktu bulan puasa

    gila bro ajib banget
    kalo gue mah bakal betah tinggal di situ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dibalik kegilaannya tapi banyak hal yang bisa kita dapatkan.
      saat ini saya lagi senang dengan commuter line.

      Delete
  9. Ciee garuda. Dulu bolak balik makassar pake airasia, skarang udah gk ada huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks mba Velysia udah mampir di blog ini.
      sayang banget yah, Air asia tujuan sudah dihapus padahal ngebantu banget wisatawan yang mau terbang ke Makassar.

      Delete

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar