Menyusuri Kawasan Menteng Bersama @JKTgoodguide

Saturday, November 21, 2015 muhammad akbar 30 Comments


Kawasan menteng tidak sekedar hanya kawasan perumahan elit Jakarta, tapi apakah kamu tahu kalau di Menteng itu banyak catatan sejarahnya tentang pemimpin dunia, sebut saja Soeharto, bapak presiden kedua Indonesia yang rumahnya di Jalan Cendana, ada Obama si anak Menteng, presiden Amerika saat ini, yang pernah sekolah di SDN 1 Menteng, ada juga cerita Soekarno, yang lagi merundingkan teks proklamasi di rumah Laksamana Maida. Menteng yang dulu masih seperti menteng yang sekarang, ceritanya juga masih sama belum ada yang berubah.

Minggu pagi (18/10) saya berjalan menuju Taman Suropati, lokasinya lumayan dekat dari stasiun Cikini, tempat saya turun dari commuter line kemudian melanjutkan jalan kaki ke Taman Suropati, lokasi meeting point pagi itu sebelum menyusuri kawasan menteng bersama @JKTgoodguide. Ini walking tour kedua yang saya ikuti, sebelumnya saya sudah ikut juga di walking tour Pasar Baru. Konsep wisata yang ditawarkan @JKTgoodguide berbeda, dimana ingin mengenalkan Jakarta tidak sebagai kota metropolitan tapi sebagai kota yang penuh dengan sejarah masa lalu.

Pagi itu peserta lumayan banyak, makanya kami dibagi beberapa kelompok. Saya tergabung dengan kelompok dua bersama Citra, Adlin, Winny, Fahmi dan Putri. Ada banyak travel blogger yang ikutan jadinya kami seperti kopdar sambil berjalan, seperti Citra, blogger asal Aceh yang akhirnya kami dipertemukan di acara walking tour ini.

“ Walking Tour Menteng kali ini kita akan mengunjungi 9 tempat bersejarah, siapkan uang lima ribu dan dua ribu untuk tiket masuk dua museum yang berbeda ”. kata pemandunya dalam briefing sebelum memulai walking tour

Saya semakin bersemangat menyusuri kawasan menteng, Oiya ada yang tahu gak sejarah nama Menteng? Jadi kata Menteng itu adalah nama sebuah pohon yang dulunya banyak tumbuh disini tapi saat ini sudah tidak ada lagi, tapi jika penasaran seperti apa pohon menteng itu, kita bisa menemukannya di Kebun Raya Bogor.

Taman Suropati – Gedung Bappenas – Gereja Paulus
Perjalanan dimulai dari Taman Suropati, taman yang sejuk nan rimbun dengan pohon-pohon yang besar menjulang, ada air mancur dan ada juga patung-patung. Patung yang ada di Taman Suropati merupakan sumbangan dari enam negara pendiri ASEAN sebagai simbol persahabatan. Bentuk patungnya bermacam-macam dan lokasinya ditempatkan secara terpisah
.
Selanjutnya berjalan menuju depan Gedung Bappenas. Sebuah patung Pangeran Dipenogoro dengan kudanya dibangun tepat diseberang Taman Suropati dan dikelilingi Taman Bunga, tapi sayang banget ada banyak coretan-coretan dan bau pesing yang menyengat.
Tampak depan Gereja Paulus
Gedung Bappenas hanya bisa dilihat dari luar, tapi konon ceritanya gedung ini dulu bekas bangunan Belanda yang dulunya dijadikan tempat berkumpul para penganut kepercayaan mistis. Seberang Jalan Gedung Bappenas terdapat Gereja Paulus, di ujung atapnya terdapat patung ayam. Mirip seperti Gereja Ayam di Kawasan Pasar Baru, ceritanya juga sama. Sebenarnya pengunjung bisa masuk dalam gereja tapi berhubung hari minggu jadi kita tidak diperbolehkan masuk dengan alasan agar kami tidak mengganggu jemaat yang sedang beribadah. Disini kami sempat ditegur oleh petugas keamanan.

“Dilarang memotret disini, kalian ini darimana?” kata bapak kemanan lengkap dengan pakaian seragamnya

“Maaf pak, kami dari Jakarta Good Guide” Balas pemandu kami dengan ramah

Belakangan baru saya tahu kalau di daerah sini memang aturan memotretnya agak ketak, karena disini terdapat banyak kantor kedutaan besar salah satunya kedutaan besar Amerika. 

Museum Perumusan Naskah Proklamasi
Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju Museum Perumusan Naskah Proklamasi, lokasinya tepat disamping Gereja Paulus. Tampak dari luar hanyalah sebuah rumah tua dengan ciri khas arsitektur Eropa, tingkat dua dengan warna dominan putih, Iya memang ini adalah bekas rumah yang dijadikan Museum Perumusan Naskah Proklamasi. 

Ada yang tahu tidak sejarahnya? Kalau tidak, buka kembali buku sejarah. Jadi rumah itu milik Laksamana Muda Tadashi Maeda, perwira tinggi angkatan laut Jepang. Sejak penjajah beralih dari Belanda ke Jepang, rumah ini dijadikan sebagai kediaman Laksamada Maeda. Ceritanya panjang, kenapa harus di rumah Laksamada Maeda? ternyata perwira ini menaruh cinta terhadap Indonesia, hingga dia mau dijadikan rumahnya sebagai tempat terjadinya peristiwa penting bangsa Indonesia walaupun di akhir hayatnya dia dianggap sebagai penghianat oleh pemerintah Jepang, tapi tidak usah khawatir pilihanmu sudah benar dan kami bangsa Indonesia akan selalu mengenang jasamu Laksamana Maeda.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi
Tampak dalam museum, terlihat beberapa ruangan yang saling berhubungan, setiap ruangannya memperlihatkan sedetail mungkin bagaimana cerita di rumah itu. Ada meja panjang lengkap dengan kursinya, disitulah duduk Ir. Soekarno, Bung Hatta dan Ahmad Soebardjo sedang merundingkan naskah proklamasi. Di ruangan lain juga terdapat patung bapak Sayuti Melik sedang mengetik naskah proklamasi yang sudah dirundingkan. Kejadian malam itu benar-benar bisa dirasakan dengan jelas. Saya sungguh beruntung bisa berkunjung kesini.
Ir. Soekarno, Moh. Hatta dan Ahmad Soebardjo lagi berunding, Bukan cinta segitiga yah!!
Naskah pertama teks Proklamasi, kalau kata-katanya tidak sesuai langsung dicoret.
Naskah Pertama Teks Proklamasi
Didalam museum juga terdapat beberapa hiasan dinding berupa foto para tokoh yang hadir di malam itu, lengkap dengan biografinya. Juga terdapat sebuah ruangan yang saat ini dijadikan sebagai mini bioskop. Sayangnya saat kami berkunjung tidak sempat masuk karena masih harus melanjutkan perjalanan lagi.
Dibelakang museum terdapat lorong bawah tanah, yang katanya bisa sampai di Taman Suropati.
SDN 1 Menteng
Tibalah kami di  SDN 1 Menteng, tempat Barry, nama kecil Barrack Obama yang saat itu mengenyam pendidikan disini ketika tinggal di Indonesia. Berhubung hari libur, jadi kami tidak bisa masuk kedalam. Dari luar, kami bisa melihat sebuah patung Obama ketika kecil, yang katanya dibangun saat Barrack Obama hendak berkunjung ke Indonesia.

Selain itu di gapura gerbangnya tersimpan sebuah plakat besi bertuliskan nama Barrack Husein Obama, the 44th the presiden of United States of America, attended this school from 1969-1971. 
Inilah sekolah, tempat Obama pernah mengeyam pendidikan.
Museum Jendral AH. Nasution
Sebuah patung berseragam lengkap di depan sebuah rumah. Inilah rumah Jenderal Besar Dr. AH. Nasution yang terletak di Jalan Teungku Umar No. 4 yang kemudian menjadi Museum Sasmita Loka Jenderal AH. Nasution di tahun 2008 setelah beliau wafat. 

Waktu kecil dulu saya sering ikut nonton bareng di rumah kepala dusun di kampung saya, karena cuma dialah salah satunya yang punya televisi tabung saat itu. Setiap malam tanggal 30 September, kami menonton kekejaman PKI yang menculik dan membunuh para jenderal, tapi di salah satu adegan film terdapat cerita tentang Jenderal AH. Nasution yang berhasil kabur dari rumahnya tapi beliau harus mengorbangkan Ade irma Nasution, putri pertamanya yang tertembak oleh para tjakrabirawa (saat ini namanya pasampres). Tapi apakah film itu benar adanya? 

Untuk masuk ke Museum ini, pengunjung diharuskan membayar lima ribu. Adegan malam itu terlihat jelas dengan patung yang sengaja dibuat, ada patung Ade Irma Nasution yang sedang digendong ibunya diberondong senjata oleh para tjakrabirawa, ada tetesan darah Ade Irma Nasution di lantai, ada patung Jenderal AH. Nasution bangkit dari tempat tidurnya dan melompat di pagar rumahnya. Semuanya itu terlihat jelas dalam rumah ini. Tidak hanya itu, bekas peluru di pintu kamar dan didalam dinding dibiarkan begitu saja sebagai saksi. Apapun alasannya ini sangat tragis dan kejam. 

Pengunjung juga diantar menuju kamar Ade Irma Nasution, tempat tidurnya masih seperti dulu dan terdapat beberapa lemari yang berisikan pakaiannya. Saya sempat melihat foto Ade Irma Nasution yang tergantung di dinding, ketika hendak memotretnya, saya ditegur Winny agar tidak usah mengambil gambarnya. Dia mengerutkan kening sambil mengusap tangannya, bulu kuduknya berdiri dan dia merasakan sesuatu yang beda dengan foto itu, saya pun menurut dan keluar dari ruangan itu. Bukan bermaksud menakuti, tapi saya sangat merekomendasikan untuk mengunjungi museum ini.
Bagian depan rumah Jenderal AH. Nasution
Adegan sebelum Jenderal AH. Nasution kabur dari rumahnya.
Jalan Cendana - Galeri Seni Kunstkring - Masjid Cut Meutia
Setelah dari Museum, kami menuju Jalan Cendana. Apa yang kamu tahu tentang Jalan Cendana? Jalan Cendana yang begitu terkenal di era orde baru, bahkan jalan ini hanya bisa dilewati oleh keluarga Cendana. Rumah kediaman Soeharto terletak di Jalan Cendana, saat kami berkunjung kesana rumahnya masih dijaga walaupun terlihat kurang terawat. 

“ Seandainya rumah ini mau dijadikan Museum, tapi sayangnya keluarga dari Soeharto tidak mau. Mungkin takut kalau kisahnya diungkit kembali “ Kata seorang bapak yang ikut dalam rombongan walking tour.

Saya juga ikut sepakat dengan bapak tersebut. Rumah mantan presiden Indonesia yang memimpin negeri ini selam 33 tahun tentunya menyimpan banyak cerita. 

Rumah Mendiang Soeharto di Jalan Cendana
Tidak jauh dari Jalan Cendana, kami menuju sebuah gedung tua namanya Galeri Seni Kunstring. Gedung ini sudah beberapa kali berganti fungsi. Terdapat sebuah tulisan IMMIGRASIE NST- DJAWA N IMMIGRASI di dinding luar atasnya, iya gedung ini pernah dijadikan sebagai kantor imigrasi Jakarta Pusat. Gedung ini juga pernah dijadikan sebagai café buddha bar tapi tidak bertahan lama karena mengundang banyak protes. Saat ini Galeri Seni Kunstring sebagai café dan restaurant, tempat ini juga sering dijadikan sebagai tempat pameran, saat kami berkunjung sedang ada pameran foto. 

Galeri Seni Kunstring, ada kemiripan dengan bangunan Lawang Sewu.
Tibalah kami di destinasi terakhir, Masjid Cut Meutia. Sebelum dijadikan masjid pada tahun 1987, bangunan ini juga beberapa kali berganti fungsi. Awalnya dari Kantor Biro Arsitek, kemudian berganti menjadi Kantor Jewatan Kereta Api. Namun setelah Indonesia merdeka, gedung ini berganti fungsi lagi menjadi Kantor Urusan Agama. Hingga akhirnya menjadi Masjid Cut Meutia, makanya ini salah satunya masjid yang dari luar tidak seperti masjid, karena memang sejarahnya tidak dibangun sebagai Masjid.

Menyusuri Kawasan Menteng bersama Jakarta Good Guide memberikan saya banyak cerita tentang sejarah Menteng, sejarah yang mungkin kini terlupakan. Belajar sejarah bukan berarti kita tidak bisa bangkit dari cerita masa lalu, tapi bukankah Ir Soekarno sudah mengingatkan kita agar jangan sekali-kali melupakan sejarah. Setelah mengunjungi Menteng, saya masih mau ikut lagi di acara walking tour Glodok, Kota Tua dan Monas. Tiga dari 5 destinasi walking tour yang belum saya datangi. Jika kamu tertarik untuk ikutan, bisa liat infonya di twitter @JKTgoodguide

30 comments:

  1. wahhh kenapa emg ama foto ade irma???? aku sempet foro itu loh waktu ke museum jend nasution dulu... Ih jd merinding kan mas -__-.. btw, ga ke museum ahmad yani sekalian? museum2 yg punya bnyk kisah tragis gini nih yg aku suka... kesannya mistis :D.. kalo museum perumusan naskah aku ga begitu kepengin datangin, krn murni sejarah.. jd rada bosen ;p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Museum Ahmad Yani dimana yah? Kok saya gak tau..

      Kata teman saya, ada sesuatu dengan foto itu, tapi dia gak mau jelaskan kenapa gak boleh motret fotonya.

      Delete
  2. walking tour emang menyenangkan ya bar :D

    jadi pengen ke Museum Jendral AH Nasution nih. di sana ada pemandunya kan ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menyenangkan banget, cara belajar sejarah yang tidak membosankan.

      Ada kok pemandunya, dan orangnya baik dan cara menjelaskannya detail banget, serasa kita berada di kejadian malam itu.

      Delete
  3. with seri juga bias wisata sejarah seperti. biasanya kalau wisata sejarah selalu mengandalkan feeling, enak juga klo ada yang ngarahin hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setidaknya kalau ikut walking tour seperti ini, detailnya cerita sejarahya lebih akurat dibanding hanya mengandalkan feeling.

      Delete
  4. Kak ... di depan SD menteng 1 ada yang jualan cimol enak banget lho, nyobain ngak ???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waktu itu kami ke sananya wekeend Mas Cum, jadi gada yg jualan cimol. Padahal kabarnya legendaris. Duh emang belom jodoh ��

      Delete
  5. Baru tau aku di Jakarta ada gedung IMMIGRASIE NST- DJAWA N IMMIGRASI :D
    Salam kenal yaa... Semoga next bisa ikut ngetrip bareng @JKTGoodGuide ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal balik

      Saya juga baru tau loh, setelah ikut walking tour ini.

      Delete
  6. waah, ini rombongan yang waktu itu tak sengaja ditemukan aku yah, hihiiyy..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar banget mba Indri..
      Kapan nih kita jalan bareng lagi??
      Ajakin bintang juga..hehehhe

      Delete
  7. Wah kemarin saya ikut yang Tour di Pusat Kota, Mas. Hehehe. Saya pengen cobain rute yang lain juga. Semoga bisa bertemu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya malah belum ikut yang tour pusat kota, tapi rata2 destinasinya sudah saya kunjungi, tapi ikut walking tour pasti keseruannya berbeda.

      Semoga bisa walking tour bareng yah, tapi sayang saya sudah tidak di jakarta lagi.

      Delete
  8. Replies
    1. Asiknya Joss.
      Ceritanya dapat tapi lumayan melelahkan juga.

      Delete
  9. baru tahu ada banyak spot seru di Jakarta yang bisa dijelajahi dengan jalan kaki. Makasih ceritanya mas ;)

    ReplyDelete
  10. cerita yang urut dan perjalanan menarik mas, klo saya paling demen sama pak AH Nasution, beliau bener bener berintregitas tinggi :)

    ReplyDelete
  11. Museum Perumusan Naskah Proklamasi ternyata bagus juga dalamnya, sampe ada patung yang terlihat hidup gitu... jadi pengen cepat-cepat ke sana :D

    ReplyDelete
  12. oalah, budha bar yang dulu rame itu bangunan ini to? kece yak galeri seni kunstring. semoga heritage sites di Jakarta ini selalu terjaga & terawat.

    ReplyDelete
  13. saya paling suka bacaan yg berbau sejarah kaya gini hehehe
    makasih mas

    ReplyDelete
  14. SD 01 Menteng emang dahsyat ya.
    banyak banget sejarah nya orang2 penting yg kecilnya pernah skolah disana

    ReplyDelete
  15. makasih atas share postnya, sangant menarik dan memberikan informasi yang bermanfaat buat saya

    ReplyDelete
  16. Kak ... udah 3 bulan ngak ada tulisan baru, apa kamu lelah hahaha #Kabur

    ReplyDelete
  17. ih nyesel waktu ke jakarta g Tour Menteng, kan bisa jalan2 sambil liat sejarah

    ReplyDelete
  18. Wah kemarin saya ikut yang Tour di Pusat Kota, Mas. Hehehe. Saya pengen cobain rute yang lain juga. Semoga bisa bertemu :)

    ReplyDelete

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar